Air Zamzam dari Masa Hajar hingga Sistem Pelayanan di Masjidil Haram

Air Zamzam yang diminum jamaah di Masjidil Haram berasal dari sumur di dekat Ka’bah. Sebelum tersedia melalui keran dan wadah air seperti sekarang, Zamzam telah menjadi sumber air bagi orang-orang yang tinggal dan datang ke Makkah. Kisah awalnya berkaitan dengan Hajar dan Ismail yang masih bayi, ketika mereka ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah yang belum berpenghuni. Riwayat ini terdapat dalam Sahih al-Bukhari 3364, mulai dari bekal yang dibawa, pencarian pertolongan oleh Hajar, hingga munculnya air dan kedatangan penduduk di sekitarnya.

Nabi Ibrahim Meninggalkan Hajar dan Ismail di Makkah

Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke lembah Makkah dengan meninggalkan bekal kurma serta air. Saat itu belum ada penduduk maupun sumber air di tempat tersebut. Ketika mengetahui bahwa kepergian Ibrahim merupakan perintah Allah, Hajar menerima keadaan itu. Setelah berjalan hingga tidak terlihat oleh mereka, Ibrahim menghadap ke arah Baitullah dan berdoa. Dalam riwayat al-Bukhari, doa tersebut dihubungkan dengan QS Ibrahim ayat 37 berikut.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim ayat 37, terjemahan Kementerian Agama RI melalui Quran.com.)

Hajar Mencari Pertolongan dari Safa ke Marwah

Sementara itu, Hajar tinggal bersama Ismail dan menggunakan air yang dibekalkan kepada mereka. Ketika persediaan tersebut habis, keduanya mulai kehausan. Hajar naik ke Bukit Safa untuk mencari orang yang dapat menolong, tetapi tidak melihat siapa pun. Ia lalu turun, berlari saat melintasi lembah, dan naik ke Bukit Marwah untuk kembali melihat keadaan di sekitarnya. Pencarian itu dilanjutkan dari Marwah ke Safa, kemudian kembali lagi ke Marwah hingga genap tujuh lintasan. Safa ke Marwah dihitung satu lintasan dan perjalanan kembali ke Safa dihitung lintasan berikutnya.

Pada akhir pencarian itu, Hajar mendengar suara saat berada di Marwah. Ia kemudian melihat malaikat di lokasi Zamzam sedang menggali tanah dengan tumitnya atau sayapnya hingga air muncul. Hajar menampung aliran itu dengan tangannya dan mengisi tempat air yang dibawanya. Ia lalu minum dan kembali menyusui Ismail. Keterangan tentang malaikat inilah yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari 3364.

Rombongan Jurhum Menemukan Sumber Air

Keberadaan air kemudian menarik perhatian rombongan Jurhum yang melintas. Mereka melihat burung berputar di kawasan itu dan menduga ada sumber air, padahal sebelumnya mereka tidak mengenal adanya air di lembah tersebut. Setelah mengirim orang untuk memeriksa, rombongan itu mendatangi Hajar dan meminta izin tinggal. Hajar mengizinkan mereka menetap dengan ketentuan bahwa mereka tidak memiliki hak atas air tersebut. Keluarga rombongan itu kemudian ikut datang, sehingga kawasan di sekitar Hajar dan Ismail mulai dihuni lebih banyak orang.

Dari Timba ke Pompa dan Keran Air

Dalam perkembangan Makkah pada masa-masa berikutnya, pengambilan air Zamzam mengalami banyak perubahan. Saudipedia mencatat bahwa air dahulu diambil menggunakan timba. Pada 1953, Raja Abdulaziz memerintahkan pemasangan pompa untuk mengangkat air ke dua tangki yang dilengkapi 24 keran. Jamaah pun mempunyai pilihan mengambil air melalui keran, sementara penggunaan timba masih berlangsung. Perubahan ini menjadi salah satu tahap peralihan menuju fasilitas penyediaan air yang lebih terpusat.

Letak sumur yang berada di area tawaf juga membuat penataannya berkaitan dengan pergerakan jamaah. Menurut Saudipedia, sumur Zamzam berada sekitar 21 meter di sebelah timur Ka’bah. Pada 2003, kajian penataan Masjidil Haram menyoroti perlunya menutup akses menuju ruang bawah tanah Zamzam untuk memberi lebih banyak ruang di Mataf. Pelayanan air kemudian dapat dijangkau melalui fasilitas distribusi tanpa mengharuskan jamaah mendatangi sumurnya.

Pengelolaan Air Sebelum Sampai kepada Jamaah

Pemakaian pompa berkembang menjadi jaringan pengelolaan air. Berdasarkan penjelasan Saudipedia, air dialirkan melalui sistem tertutup, disaring untuk menahan pasir dan kotoran, lalu ditangani melalui fasilitas sterilisasi dan penampungan. Sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet tanpa menambahkan bahan kimia. Air kemudian disediakan untuk Masjidil Haram dan diangkut ke Masjid Nabawi.

Jamaah mengambil air di fasilitas minum Zamzam, Masjidil Haram, dalam dokumentasi 2023. Foto M sh شراونة محمد / Wikimedia Commons   CC BY-SA 4.0.

Distribusi Zamzam di Tengah Keramaian Jamaah

Setelah air tersedia untuk disalurkan, pekerjaan berikutnya adalah menempatkan layanan di lokasi yang mudah dijangkau jamaah. Kebutuhannya meningkat pada musim haji ketika Masjidil Haram menerima lebih banyak pengunjung. Dalam laporan musim haji 2026 yang diterbitkan kembali oleh Riyadh Daily, Saudi Press Agency mencatat 169 fasilitas pancuran minum dan distribusi lebih dari 2,1 juta gelas setiap hari. Laporan yang sama menyebut 70 pemeriksaan keamanan dan kualitas air per hari. Angka tersebut menggambarkan pelayanan pada musim haji 2026.

Pengelola menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan di masing-masing titik, memperluas jangkauan layanan dan mengurangi pemborosan air. Penataan itu juga dimaksudkan agar jamaah tidak menumpuk di satu tempat saat mengambil minum. Karena itu, tersedianya Zamzam di lingkungan masjid bergantung pada rangkaian pekerjaan yang berlangsung terus-menerus, mulai dari pengolahan air hingga pengisian fasilitas yang digunakan jamaah.

Sumurnya berada di dekat Ka’bah, sedangkan airnya telah melalui fasilitas pengelolaan sebelum sampai ke tempat tersebut. Dari tempat pengambilan air inilah kisah Zamzam berlanjut dalam keseharian Masjidil Haram, melayani orang-orang yang datang ke Makkah dari berbagai penjuru. Jamaah yang berangkat bersama travel umroh Bandung pun akan menemukan layanan Zamzam ini di berbagai titik Masjidil Haram, sementara sumber airnya tetap berasal dari sumur yang berada di dekat Ka’bah.

Baca artikel lainnya

Sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW, Madinah dikenal dengan nama Yatsrib dan telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat. Saudipedia mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah pada tahun 622 M, kota tersebut kemudian dikenal sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah. Hijrah membawa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Yatsrib sekaligus membuka babak baru bagi kota tersebut. […]

...

Masjid Qiblatain berada di kawasan Bani Salamah di Madinah. Masjid ini dikenal dalam sejarah Islam karena kawasan tersebut menjadi tempat terjadinya perubahan kiblat salat dari Baitul Maqdis di Yerusalem menuju Ka’bah di Makkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah setelah Rasulullah SAW tinggal di Madinah selama sekitar enam belas atau tujuh belas bulan. Perintah […]

...

Di sisi utara Ka’bah terdapat dinding rendah berbentuk setengah lingkaran yang berdiri beberapa meter dari dinding utama Ka’bah. Ruang terbuka di antara dinding Ka’bah dan dinding melengkung tersebut dikenal sebagai Hijr Ismail. Letaknya berada di luar bangunan utama Ka’bah yang terlihat sekarang. Posisi ini terbentuk setelah Quraisy membangun ulang Ka’bah beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad […]

...