Di sisi utara Ka’bah terdapat dinding rendah berbentuk setengah lingkaran yang berdiri beberapa meter dari dinding utama Ka’bah. Ruang terbuka di antara dinding Ka’bah dan dinding melengkung tersebut dikenal sebagai Hijr Ismail. Letaknya berada di luar bangunan utama Ka’bah yang terlihat sekarang. Posisi ini terbentuk setelah Quraisy membangun ulang Ka’bah beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu.
Ketika membangun ulang Ka’bah, Quraisy tidak mendirikan dinding sisi utara sampai ke seluruh batas fondasi yang disebut Rasulullah SAW sebagai fondasi Ibrahim. Kekurangan biaya membuat Quraisy memperpendek bangunan pada sisi tersebut. Sebagian area yang sebelumnya berada dalam batas fondasi akhirnya berada di luar bangunan utama. Quraisy memberi batas pada area itu dengan dinding rendah. Area tersebut kemudian dikenal sebagai Al-Hijr atau Hijr Ismail.

Foto Hijr Ismail di sisi utara Ka’bah oleh Moataz Tawfek Egbaria melalui Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
Pembangunan Ka’bah pada Masa Nabi Ibrahim AS
QS Al-Baqarah ayat 127 menyebut Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS meninggikan fondasi Baitullah sambil berdoa agar amal mereka diterima Allah SWT. Ayat tersebut tidak menjelaskan ukuran Ka’bah dan tidak menyebut Hijr Ismail. Hubungan area di sisi utara Ka’bah dengan fondasi Ibrahim dijelaskan Rasulullah SAW dalam riwayat Aisyah RA.
Dalam Shahih Bukhari no. 1583 Rasulullah SAW menjelaskan kepada Aisyah RA bahwa Quraisy membangun Ka’bah lebih kecil dari batas fondasi Ibrahim. Dinding yang dibangun Quraisy tidak menutup seluruh area fondasi sebelumnya sehingga sebagian area pada sisi utara berada di luar bangunan utama.
Dalam Shahih Bukhari no. 1584 Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang dinding melengkung yang berada di dekat Ka’bah. Aisyah bertanya apakah area di balik dinding tersebut termasuk bagian dari Baitullah dan Rasulullah SAW menjawab iya. Aisyah kemudian bertanya mengapa Quraisy tidak memasukkan area tersebut ke dalam bangunan Ka’bah. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa biaya Quraisy tidak mencukupi.
Dinding setengah lingkaran yang terlihat sekarang tidak dapat dianggap sebagai bentuk Hijr Ismail sejak masa Nabi Ibrahim AS. Hadis sahih menyebut adanya bagian pada sisi utara yang termasuk dalam Baitullah dan berkaitan dengan fondasi Ibrahim. Setelah Quraisy memperpendek bangunan Ka’bah, area yang tidak masuk ke dalam bangunan utama diberi batas dengan dinding rendah.
Quraisy Membangun Ulang Ka’bah
Sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, Ka’bah mengalami kerusakan dan Quraisy memutuskan untuk membangun ulang bangunan tersebut. Riwayat sirah menyebut Quraisy bersepakat tidak menggunakan harta yang berasal dari riba, perampasan atau sumber yang mereka anggap tidak baik. Dana yang terkumpul dengan ketentuan tersebut tidak mencukupi untuk membangun Ka’bah sampai ke seluruh batas sebelumnya. Rincian tentang sumber harta berasal dari riwayat sirah sedangkan kekurangan biaya Quraisy disebut langsung dalam riwayat Aisyah di Shahih Bukhari.
Quraisy tetap melanjutkan pembangunan meskipun biaya yang tersedia tidak mencukupi. Dinding utara yang baru didirikan sebelum mencapai seluruh batas fondasi sebelumnya sehingga ukuran Ka’bah pada sisi tersebut menjadi lebih pendek. Sebidang area di antara dinding baru dan batas fondasi sebelumnya tidak lagi berada di dalam bangunan beratap. Area tersebut berkaitan dengan Al-Hijr yang sekarang dikenal sebagai Hijr Ismail.

Gambaran posisi Al-Hijr di sisi utara Ka’bah. Ilustrasi Abdullah Al Wasif melalui Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
Perubahan yang dilakukan Quraisy juga terlihat pada bagian lain Ka’bah. Sumber sejarah Makkah mencatat bahwa bangunan Ka’bah dibuat lebih tinggi dan diberi atap. Tiang-tiang dipasang di bagian dalam untuk menopang atap tersebut. Quraisy juga meninggikan pintu Ka’bah dari permukaan tanah. Dalam Shahih Bukhari no. 1584 Rasulullah SAW menjelaskan bahwa posisi pintu dibuat tinggi agar Quraisy dapat menentukan siapa yang diperbolehkan masuk.
Nabi Muhammad SAW yang saat itu belum menerima wahyu ikut mengangkut batu untuk pembangunan Ka’bah bersama Al-Abbas. Peristiwa tersebut tercatat dalam Shahih Bukhari no. 1582.
Ketika pembangunan mencapai bagian Hajar Aswad, beberapa kabilah Quraisy berselisih mengenai siapa yang berhak meletakkan batu tersebut kembali ke tempatnya. Literatur sirah menceritakan bahwa Muhammad SAW dipercaya menjadi penengah. Hajar Aswad diletakkan di atas selembar kain lalu para pemimpin kabilah mengangkat kain tersebut bersama-sama. Setelah Hajar Aswad berada dekat dengan tempatnya, Muhammad SAW mengambil batu itu dan meletakkannya kembali pada posisinya. Kisah penyelesaian perselisihan Hajar Aswad berasal dari riwayat sirah dan bukan dari hadis Shahih Bukhari yang meriwayatkan keterlibatan Nabi Muhammad SAW dalam mengangkut batu.
Mengapa Hijr Ismail Berada di Luar Ka’bah
Ka’bah yang dibangun Quraisy tidak menutup seluruh batas fondasi sebelumnya pada sisi utara. Sebagian area yang berada dalam batas tersebut akhirnya berada di luar empat dinding utama Ka’bah.
Quraisy memberi batas pada area tersebut dengan dinding rendah. Saudipedia menjelaskan bahwa nama Al-Hijr berkaitan dengan area dari fondasi Ibrahim yang tidak dimasukkan Quraisy ke dalam bangunan Ka’bah lalu dibatasi dengan dinding. Batas tersebut menjadi asal bentuk dasar Hijr di sisi utara Ka’bah.
Riwayat Shahih Bukhari no. 1586 menyebut sekitar enam hasta dari Al-Hijr ketika menjelaskan bagian yang berkaitan dengan fondasi Ibrahim. Riwayat lain menyebut ukuran yang sedikit berbeda. Karena itu seluruh ruang di dalam dinding setengah lingkaran sekarang tidak dapat langsung dianggap sebagai bagian yang dahulu berada di dalam batas bangunan Ka’bah. Hadis sahih memastikan adanya bagian pada sisi utara yang tidak dimasukkan Quraisy ke dalam bangunan karena biaya mereka tidak mencukupi.
Rasulullah SAW Ingin Mengembalikan Ka’bah ke Fondasi Ibrahim
Setelah Fathu Makkah, Rasulullah SAW tidak membongkar Ka’bah yang dibangun Quraisy. Beliau menjelaskan kepada Aisyah RA bahwa masyarakat Makkah saat itu masih dekat dengan masa Jahiliyah. Rasulullah SAW khawatir perubahan besar pada Ka’bah akan menimbulkan penolakan di tengah masyarakat yang baru meninggalkan masa tersebut.
Dalam Shahih Bukhari no. 1586 Rasulullah SAW menyampaikan keinginannya untuk membangun kembali Ka’bah sampai ke fondasi Ibrahim apabila keadaan masyarakat memungkinkan. Bagian yang tidak dimasukkan Quraisy akan dimasukkan kembali ke dalam bangunan. Rasulullah SAW juga ingin membuat dua pintu yang sejajar dengan tanah dengan satu pintu di sisi timur dan satu pintu di sisi barat.
Rasulullah SAW tidak melakukan perubahan tersebut. Ka’bah tetap berdiri dengan bentuk hasil pembangunan Quraisy dan area Hijr tetap berada di luar dinding utama.
Abdullah bin Zubair Memasukkan Bagian Hijr ke Dalam Ka’bah
Beberapa puluh tahun kemudian Ka’bah mengalami kerusakan akibat konflik di Makkah. Abdullah bin Zubair membongkar dan membangun ulang Ka’bah dengan mengikuti riwayat Aisyah tentang perubahan yang pernah ingin dilakukan Rasulullah SAW.
Shahih Bukhari no. 1586 mencatat bahwa Abdullah bin Zubair memasukkan bagian dari Al-Hijr ke dalam bangunan Ka’bah. Dinding sisi utara diperpanjang sampai ke batas fondasi yang disebut Rasulullah SAW dalam riwayat Aisyah. Abdullah bin Zubair juga membuat dua pintu yang sejajar dengan tanah sesuai keterangan Rasulullah SAW kepada Aisyah.
Pembangunan Abdullah bin Zubair mengubah posisi dinding utara Ka’bah. Bagian yang berada di luar bangunan sejak pembangunan Quraisy kembali masuk ke dalam bangunan utama. Garis dinding sisi utara berpindah sehingga bagian dari area Hijr yang sebelumnya berada di luar kembali berada di dalam Ka’bah.
Ka’bah Kembali ke Bentuk Pembangunan Quraisy
Setelah Abdullah bin Zubair wafat pada 73 H, Al-Hajjaj bin Yusuf melaporkan bentuk Ka’bah yang dibangun Abdullah bin Zubair kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik memerintahkan agar bagian yang ditambahkan pada sisi Hijr dibongkar. Dinding utara dikembalikan ke posisi seperti bangunan Quraisy dan pintu barat ditutup. Ka’bah kembali memiliki susunan dasar seperti sebelum pembangunan Abdullah bin Zubair.
Abdul Malik kemudian mengetahui bahwa riwayat Aisyah yang menjadi dasar pembangunan Abdullah bin Zubair memang berasal dari Rasulullah SAW. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Abdul Malik menyatakan akan membiarkan bangunan Abdullah bin Zubair tetap seperti semula seandainya ia mengetahui riwayat tersebut sebelumnya.
Sejak perubahan pada masa Abdul Malik, Hijr kembali berada di luar dinding utara Ka’bah. Pemugaran besar masih dilakukan pada masa berikutnya termasuk pembangunan ulang setelah banjir pada abad ke-17. Pemugaran tersebut mempertahankan susunan dasar Ka’bah sehingga posisi Hijr tidak dimasukkan kembali ke dalam bangunan utama.
Hijr Ismail yang Dilihat Jamaah Sekarang
Dinding Hijr telah mengalami banyak pemugaran sejak masa awal Islam. Para penguasa Muslim memperbaiki kawasan tersebut pada berbagai masa. Saudipedia mencatat penggantian marmer pada dinding dan lantai Hijr termasuk dalam pemugaran pada masa Saudi. Bentuk serta material yang terlihat sekarang merupakan hasil dari rangkaian pemugaran tersebut.
Saudi Press Agency pada Maret 2026 mencatat bahwa Hijr Ismail berada di sisi utara Ka’bah. Dinding melengkungnya memiliki tinggi sekitar 1,3 meter dengan ketebalan sekitar 90 sentimeter. Dinding marmer putih yang terlihat sekarang merupakan hasil pemugaran selama berabad-abad dan tidak dapat dianggap sebagai bentuk yang sudah ada sejak masa Nabi Ibrahim AS.

Foto Hijr Ismail dengan dinding marmer yang terlihat saat ini oleh saudipics melalui Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
Nama Hijr Ismail dalam Sejarah
Saudipedia mencatat beberapa nama untuk kawasan ini yaitu Al-Hijr, Hijr Ismail, Al-Jadr, Hufrat Ismail dan Al-Hateem. Istilah Hijr Ismail dan Al-Hateem sering digunakan untuk menyebut kawasan melengkung di sisi utara Ka’bah. Namun sumber klasik memberikan penjelasan yang berbeda mengenai cakupan beberapa nama tersebut.
Nama Hijr Ismail dikaitkan dengan riwayat sejarah yang menyebut Nabi Ibrahim AS pernah membuat tempat berlindung bagi Nabi Ismail AS di kawasan tersebut. Keterangan tentang asal nama ini berasal dari riwayat sejarah sedangkan perubahan ukuran Ka’bah oleh Quraisy dijelaskan dalam hadis sahih. Nama Hijr Ismail tidak membuktikan bahwa dinding setengah lingkaran yang terlihat sekarang sudah berdiri dengan bentuk yang sama sejak masa Nabi Ismail AS.
Jejak Perubahan Ka’bah yang Masih Bisa Dilihat
Dinding melengkung Hijr Ismail di sisi utara Ka’bah menjadi penanda area yang berkaitan dengan perubahan ukuran bangunan pada masa Quraisy. Bagian dari area tersebut pernah dimasukkan kembali ke dalam Ka’bah oleh Abdullah bin Zubair. Setelah perubahan pada masa Abdul Malik bin Marwan, bagian itu kembali berada di luar dinding utama seperti pada susunan bangunan Quraisy.
Jamaah yang berangkat bersama travel umroh Bandung maupun dari daerah lain akan melihat Hijr Ismail tepat di sisi utara Ka’bah ketika berada di Masjidil Haram. Dinding setengah lingkaran tersebut menandai bagian dari perjalanan panjang perubahan bangunan Baitullah mulai dari fondasi yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim AS, pembangunan ulang oleh Quraisy, perubahan oleh Abdullah bin Zubair hingga susunan Ka’bah yang bertahan sampai sekarang.
