Kereta Cepat Haramain yang menghubungkan Makkah dan Madinah
Kereta Cepat Haramain menjadi salah satu moda transportasi yang menghubungkan Makkah, Jeddah dan Madinah.

Mengenal Kereta Cepat Haramain yang Menghubungkan Makkah dan Madinah

Kereta Cepat Haramain menjadi salah satu pilihan transportasi jamaah umroh untuk berpindah antara Makkah dan Madinah. Jalurnya juga menghubungkan Jeddah, Bandara Internasional King Abdulaziz dan King Abdullah Economic City, dengan kecepatan operasional hingga 300 kilometer per jam.

Perjalanan langsung Makkah–Madinah dapat ditempuh sekitar dua jam, tergantung jadwal dan pola pemberhentian kereta. Bagi jamaah umroh, keberadaan Haramain membuat perjalanan antarkota tidak selalu harus dilakukan dengan bus selama beberapa jam.

Haramain juga terus digunakan dalam skala besar. Pada musim Haji 1447 H atau 2026, Saudi Arabia Railways mencatat lebih dari 1,16 juta penumpang menggunakan kereta ini dalam 5.569 perjalanan dengan tingkat ketepatan waktu lebih dari 98 persen.

Sejarah Kereta Cepat Haramain

Pembangunan Kereta Cepat Haramain dimulai pada 2009 sebagai bagian dari pengembangan sistem transportasi di wilayah barat Arab Saudi. Proyek ini dirancang untuk menghubungkan Makkah dan Madinah sekaligus melayani pergerakan jamaah haji dan umroh yang terus bertambah.

Kereta Haramain kemudian diresmikan pada September 2018. Perjalanan komersial resminya dimulai pada 11 Oktober 2018, ketika kereta berangkat dari Madinah menuju Makkah dengan membawa 417 penumpang. Pada waktu yang sama, perjalanan dari Makkah menuju Madinah juga mulai dioperasikan.

Saudi Arabia Railways atau SAR mencatat 2018 sebagai tahun dibukanya Haramain High-Speed Railway dalam perkembangan jaringan kereta Arab Saudi. Setelah itu, layanan terus berkembang hingga menjadi salah satu moda transportasi utama di jalur Makkah, Jeddah dan Madinah.

Latar Belakang Pembangunan Haramain

Wilayah Makkah, Jeddah dan Madinah menerima pergerakan jamaah dalam jumlah besar sepanjang tahun. Sebelum jalur cepat ini tersedia, perjalanan antarkota lebih banyak bergantung pada kendaraan darat.

SAR menjelaskan bahwa Haramain dibangun untuk memenuhi kebutuhan transportasi jamaah domestik maupun internasional sekaliguskere membantu mengurangi kepadatan lalu lintas jalan raya di Makkah, Madinah dan Jeddah.

Karena itu, fungsi Haramain tidak hanya memperpendek waktu perjalanan. Kereta ini juga menjadi bagian dari sistem transportasi yang menghubungkan kota suci dengan Jeddah dan bandara internasional yang menjadi salah satu pintu masuk utama jamaah dari berbagai negara.

Lima Stasiun dalam Jalur Haramain

Jalur Haramain memiliki lima stasiun utama. Rutenya menghubungkan Makkah, Jeddah Al-Sulaymaniyah, Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, King Abdullah Economic City dan Madinah.

Stasiun Makkah berada di kawasan Al-Rusaifah, sekitar tiga kilometer dari Masjidil Haram. Sementara stasiun Madinah berada di Knowledge Economic City dan berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjid Nabawi.

Artinya, perjalanan dengan Haramain tetap membutuhkan transportasi lanjutan dari hotel menuju stasiun atau dari stasiun menuju hotel. Hal ini perlu diperhitungkan ketika melihat durasi perjalanan secara keseluruhan.

Stasiun Haramain Tersedia di Bandara Jeddah

Salah satu stasiun penting berada di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah. Keberadaan stasiun ini memungkinkan penumpang melanjutkan perjalanan dengan kereta setelah tiba melalui penerbangan internasional.

Bagi jamaah umroh, jalur tersebut memberikan pilihan perjalanan dari bandara menuju Makkah atau Madinah tanpa harus terlebih dahulu menuju stasiun di pusat Kota Jeddah.

Karena itu, susunan perjalanan umroh sekarang dapat menggunakan kombinasi beberapa moda transportasi. Jamaah bisa menggunakan pesawat, kereta Haramain dan kendaraan darat sesuai rute yang disusun oleh penyelenggara perjalanan.

Kereta Haramain Melaju hingga 300 Kilometer per Jam

SAR menyebut Haramain sebagai salah satu kereta listrik tercepat di dunia dengan kecepatan hingga 300 kilometer per jam. Armada Haramain terdiri dari 35 kereta, masing-masing memiliki 13 gerbong dan kapasitas 417 tempat duduk.

Kecepatan tersebut membuat perjalanan langsung Makkah–Madinah dapat ditempuh sekitar dua jam. Waktu perjalanan aktual bisa berbeda mengikuti jadwal dan jumlah stasiun yang dilewati.

Bagi jamaah yang sebelumnya terbiasa menempuh perjalanan antarkota dengan bus, perbedaan waktu ini cukup terasa. Namun perjalanan dengan kereta memiliki alur yang berbeda karena jamaah perlu berangkat dari hotel menuju stasiun dan kembali menggunakan kendaraan setelah tiba di kota tujuan.

Haramain Melayani Jutaan Penumpang

Penggunaan Kereta Cepat Haramain terus meningkat. Pada tiga bulan pertama 2026, Transport General Authority Arab Saudi mencatat sekitar dua juta penumpang menggunakan Haramain.

Menjelang musim Haji 1447 H, SAR kemudian menyediakan lebih dari 2,21 juta kursi melalui 5.308 perjalanan. Kapasitas tersebut bertambah lebih dari 210 ribu kursi dibanding musim sebelumnya.

Setelah musim haji berlangsung, SAR melaporkan lebih dari 1,16 juta penumpang telah diangkut melalui 5.569 perjalanan. Pada hari-hari dengan aktivitas tertinggi, jumlah perjalanan Haramain mencapai 142 perjalanan dalam sehari.

Data tersebut menunjukkan peran Haramain yang semakin besar dalam pergerakan jamaah antara Makkah, Jeddah dan Madinah.

Persiapan Sebelum Naik Kereta Haramain

Perjalanan dengan Haramain memiliki beberapa ketentuan yang perlu diketahui sebelum jamaah berangkat menuju stasiun. Bagasi, tiket, jadwal keberangkatan hingga perjalanan dari hotel menuju stasiun biasanya sudah diatur lebih dahulu, terutama bagi jamaah yang berangkat dalam rombongan.

Perhatikan Bagasi Sebelum Naik Kereta Haramain

Jamaah yang menggunakan Haramain perlu memperhatikan aturan bagasi karena ketentuannya tidak selalu sama dengan bagasi pesawat.

Panduan bagasi Haramain yang digunakan saat ini mencantumkan satu koper utama dengan berat maksimal 25 kilogram dan ukuran maksimal sekitar 65 x 55 x 35 sentimeter, ditambah satu barang bawaan kecil seperti tas tangan, ransel atau tas laptop.

Ketentuan tersebut perlu diperiksa kembali mendekati tanggal perjalanan karena aturan operator dapat berubah. Jamaah yang mengikuti perjalanan melalui travel biasanya akan mendapatkan informasi mengenai bagasi sebelum perpindahan dari Makkah ke Madinah atau sebaliknya.

Bagian ini penting diperhatikan karena jamaah umroh biasanya membawa koper utama sejak dari Indonesia. Barang yang masih sesuai dengan jatah bagasi pesawat belum tentu otomatis sesuai dengan ketentuan kereta.

Cek Tiket dan Jadwal Keberangkatan

Perjalanan Haramain menggunakan tiket dengan jadwal keberangkatan dan nomor kursi. SAR menyediakan akses layanan Haramain melalui kanal digital dan aplikasi resmi sehingga penumpang dapat melihat jadwal serta mengelola perjalanan.

Bagi jamaah yang berangkat bersama rombongan travel, tiket biasanya sudah disiapkan sesuai susunan perjalanan. Jamaah tetap perlu mengetahui jam keberangkatan dan waktu berkumpul agar tidak tertinggal dari rombongan.

Waktu berkumpul biasanya dibuat lebih awal dari jadwal kereta. Rombongan membutuhkan waktu untuk menurunkan koper, masuk ke stasiun, melewati pemeriksaan dan menuju area keberangkatan sebelum kereta berangkat.

Perhatikan Perjalanan dari Hotel Menuju Stasiun

Durasi perjalanan dengan kereta memang lebih singkat dibanding perjalanan darat, tetapi waktu dari hotel menuju stasiun tetap perlu dihitung.

Stasiun Makkah tidak berada tepat di depan Masjidil Haram, begitu pula stasiun Madinah yang berada beberapa kilometer dari Masjid Nabawi. Karena itu, jamaah tetap membutuhkan bus, mobil atau transportasi lain untuk menuju stasiun dan melanjutkan perjalanan ke hotel setelah tiba.

Bagi rombongan besar, perpindahan koper dan jamaah juga membutuhkan waktu. Tour leader biasanya akan mengatur waktu keberangkatan dari hotel, titik berkumpul serta proses masuk rombongan ke dalam stasiun.

Haramain Berbeda dengan Kereta Mashair

Kereta Cepat Haramain terkadang tertukar dengan Mashair Train karena keduanya digunakan dalam perjalanan jamaah di Arab Saudi.

Fungsinya berbeda. Haramain merupakan kereta cepat antarkota yang menghubungkan Makkah, Jeddah dan Madinah, sedangkan Mashair Train digunakan pada musim haji untuk menghubungkan kawasan Mina, Muzdalifah dan Arafah.

Bagi jamaah umroh, kereta yang lebih sering dibahas dalam perpindahan antara Makkah dan Madinah adalah Haramain.

Haramain dalam Perjalanan Umroh

Tidak semua program umroh menggunakan Kereta Cepat Haramain. Sebagian perjalanan masih menggunakan bus karena dapat langsung membawa rombongan dari hotel ke hotel dan lebih mudah dalam pengaturan koper untuk kelompok besar.

Pada program tertentu, Haramain digunakan karena waktu perjalanan antarkota lebih singkat. Jamaah dapat meninggalkan Makkah dan tiba di Madinah dalam beberapa jam, kemudian melanjutkan perjalanan dari stasiun menuju hotel.

Karena itu, moda transportasi antarkota menjadi salah satu informasi yang dapat ditanyakan ketika membandingkan paket umroh. Selain hotel dan penerbangan, jamaah dapat melihat apakah perpindahan Makkah–Madinah menggunakan bus atau Kereta Cepat Haramain.

Bagi masyarakat yang sedang mencari travel umroh Bandung, informasi seperti ini dapat membantu memahami susunan perjalanan sebelum memilih program. Moda transportasi yang digunakan akan memengaruhi waktu perjalanan, pengaturan koper serta proses perpindahan jamaah dari satu kota ke kota berikutnya.

Periksa Susunan Perjalanan dalam Paket Umroh

Kereta Cepat Haramain kini menjadi salah satu pilihan perjalanan antara Makkah dan Madinah. Jalur sepanjang sekitar 450 kilometer ini menghubungkan dua kota suci dengan Jeddah, bandara internasional dan King Abdullah Economic City dalam satu jaringan kereta cepat.

Bagi jamaah umroh, manfaat kereta cepat Haramain dapat dirasakan untuk mempersingkat waktu perjalanan. Namun, kenyamanan perjalanan tetap bergantung pada susunan program secara keseluruhan, mulai dari lokasi hotel, transportasi menuju stasiun, pengaturan koper hingga jadwal keberangkatan.

Penggunaan Kereta Cepat Haramain biasanya sudah disesuaikan dengan jadwal rombongan. Perjalanan dari hotel menuju stasiun, waktu keberangkatan dan perpindahan koper menjadi bagian dari pengaturan perjalanan tersebut.

Informasi yang jelas sejak sebelum keberangkatan membantu jamaah mengetahui seperti apa perpindahan dari Makkah menuju Madinah atau sebaliknya ketika perjalanan umroh sudah berlangsung.

Baca artikel lainnya

Sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW, Madinah dikenal dengan nama Yatsrib dan telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat. Saudipedia mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah pada tahun 622 M, kota tersebut kemudian dikenal sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah. Hijrah membawa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Yatsrib sekaligus membuka babak baru bagi kota tersebut. […]

...

Air Zamzam yang diminum jamaah di Masjidil Haram berasal dari sumur di dekat Ka’bah. Sebelum tersedia melalui keran dan wadah air seperti sekarang, Zamzam telah menjadi sumber air bagi orang-orang yang tinggal dan datang ke Makkah. Kisah awalnya berkaitan dengan Hajar dan Ismail yang masih bayi, ketika mereka ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah yang belum […]

...

Masjid Qiblatain berada di kawasan Bani Salamah di Madinah. Masjid ini dikenal dalam sejarah Islam karena kawasan tersebut menjadi tempat terjadinya perubahan kiblat salat dari Baitul Maqdis di Yerusalem menuju Ka’bah di Makkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah setelah Rasulullah SAW tinggal di Madinah selama sekitar enam belas atau tujuh belas bulan. Perintah […]

...