Masjid Nabawi di Madinah
Masjid Nabawi di Madinah. Foto TheHadiRahim, Wikimedia Commons, CC0

Jejak Bilal bin Rabah dalam Sejarah Azan di Madinah

Masjid Nabawi di Madinah selalu menjadi tempat yang istimewa bagi umat Islam. Setiap hari, suara azan terdengar dari masjid yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Islam. Bagi jamaah yang datang ke Madinah, mendengar azan dari Masjid Nabawi menjadi salah satu pengalaman yang berkesan. Sejarah azan di tempat ini juga tidak dapat dipisahkan dari Bilal bin Rabah RA.

Bilal bin Rabah RA adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dipercaya untuk mengumandangkan azan. Namanya sangat lekat dengan sejarah azan pada masa awal Islam, termasuk ketika kaum Muslimin mulai menjalankan kehidupan bersama di Madinah.

Masjid Nabawi di Madinah. Foto Ashique Mohammed melalui Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Bilal bin Rabah dan Kehidupan Kaum Muslimin di Madinah

Bilal bin Rabah RA merupakan salah satu sahabat yang hidup dekat dengan Rasulullah SAW. Ia termasuk orang yang memeluk Islam pada masa awal dakwah dan kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Setelah hijrah ke Madinah, Bilal menjadi bagian dari kehidupan kaum Muslimin yang sedang membangun masyarakat baru. Ia juga dikenal sebagai orang yang dipercaya untuk mengumandangkan azan dan mengajak kaum Muslimin berkumpul untuk salat.

Pada masa awal di Madinah, kaum Muslimin berkumpul untuk salat dengan memperkirakan waktu salat karena saat itu belum ada azan. Ketika para sahabat membicarakan cara untuk memanggil orang-orang agar datang untuk salat, Umar bin Khattab RA mengusulkan agar seseorang menyerukan panggilan salat. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan Bilal bin Rabah RA untuk mengumandangkan azan.

Awal Mula Azan dan Peran Bilal

Riwayat tentang awal mula azan tersebut terdapat dalam Shahih Bukhari no. 604. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, disebutkan bahwa ketika kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk salat tetapi belum ada panggilan azan. Setelah para sahabat membicarakan cara untuk memanggil orang-orang agar datang untuk salat, Umar bin Khattab RA mengusulkan agar seseorang menyerukan panggilan salat. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada Bilal bin Rabah RA, “Wahai Bilal, bangkitlah dan serukanlah panggilan salat.” 

Dalam Shahih Bukhari juga terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Bilal bukan satu-satunya sahabat yang mengumandangkan azan pada masa Rasulullah SAW. Dalam Shahih Bukhari no. 617 disebutkan bahwa Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, kemudian Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan setelahnya.

Suara Bilal dari Tempat yang Tinggi

Jika melihat Masjid Nabawi sekarang, jamaah akan menemukan banyak menara yang menjulang tinggi. Menara tersebut menjadi salah satu bagian yang mudah dikenali dari Masjid Nabawi. Namun, keadaan masjid pada masa Rasulullah SAW sangat berbeda. Saat itu Masjid Nabawi belum memiliki menara yang digunakan untuk tempat muazin mengumandangkan azan.

Menurut Saudipedia, Bilal pernah mengumandangkan azan Subuh dari atas rumah seorang perempuan dari Bani Najjar. Rumah tersebut disebut sebagai salah satu rumah yang paling tinggi di sekitar Masjid Nabawi. Cara ini dilakukan agar suara azan dapat terdengar oleh masyarakat yang tinggal di sekitar masjid. Gambaran tersebut cukup berbeda dengan keadaan sekarang. Pada masa itu belum ada pengeras suara dan menara seperti yang dapat dilihat jamaah saat berkunjung ke Madinah.

Masjid Nabawi pada tahun 1908. Foto Ibrahim Basha melalui Wikimedia Commons, Public Domain.

Pada masa itu, kawasan di sekitar Masjid Nabawi masih sederhana dan belum memiliki menara seperti sekarang. Karena belum ada pengeras suara, azan disampaikan dari tempat yang tinggi agar dapat didengar oleh masyarakat di sekitar masjid. Bilal menjalankan tugas tersebut untuk memberitahukan waktu salat kepada kaum Muslimin.

Bilal Bukan Satu-satunya Muazin pada Masa Rasulullah SAW

Nama Bilal memang sangat dikenal ketika membahas sejarah azan, tetapi Bilal bukan satu-satunya sahabat yang pernah mengumandangkan azan pada masa Rasulullah SAW. Hal ini dapat dilihat dari hadis Sahih al-Bukhari 617. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, kemudian Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan setelahnya. Ibnu Ummi Maktum adalah seorang sahabat yang tidak dapat melihat dan ia mengumandangkan azan setelah diberi tahu bahwa waktu fajar telah tiba.

Bilal memiliki peran penting dalam sejarah awal azan. Pada masa Rasulullah SAW, Ibnu Ummi Maktum juga mengumandangkan azan pada waktu tertentu. Keduanya menjalankan tugas tersebut pada waktu yang berbeda sesuai dengan riwayat yang ada.

Dari Rumah di Sekitar Masjid hingga Menara

Masjid Nabawi kemudian mengalami banyak perubahan dalam perjalanan sejarahnya. Bentuk bangunan, luas kawasan, jumlah jamaah dan fasilitasnya terus berkembang. Salah satu perubahan yang menarik adalah munculnya menara. Saudipedia mencatat bahwa menara pertama Masjid Nabawi dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz ketika ia menjadi gubernur Madinah dalam masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Setelah itu, menara Masjid Nabawi mengalami perubahan dan penambahan pada masa-masa berikutnya.

Perubahan tersebut membuat tempat untuk mengumandangkan azan juga ikut berubah. Pada masa sebelum pengeras suara digunakan, azan di Masjid Nabawi pernah disampaikan dari beberapa menara secara bergantian agar suaranya dapat menjangkau wilayah yang lebih luas. Saudi Press Agency menjelaskan bahwa sistem tersebut kemudian berubah ketika teknologi pengeras suara mulai digunakan. Saat ini, azan di Masjid Nabawi disampaikan melalui sistem suara yang terpusat sehingga dapat terdengar di dalam dan sekitar kawasan masjid.

Menara Masjid Nabawi sebagai bagian dari perkembangan arsitektur masjid dari masa ke masa. Foto Fawaz Mohammed melalui Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Cara mengumandangkan azan di Masjid Nabawi kemudian berubah seiring perkembangan bangunan dan teknologi. Dari tempat yang tinggi, azan kemudian disampaikan dari menara dan pada masa sekarang menggunakan sistem pengeras suara. Perubahan tersebut mengikuti kebutuhan jamaah yang jumlahnya terus bertambah.

Azan di Masjid Nabawi pada Masa Sekarang

Jamaah yang datang ke Masjid Nabawi sekarang akan menemukan tempat khusus yang disebut Mukabbariyah. Saudipedia menjelaskan bahwa tempat ini digunakan untuk mengumandangkan azan dan iqamah serta membantu menyampaikan takbir imam kepada jamaah. Letaknya berada di area yang ditinggikan dan menghadap ke bagian penting Masjid Nabawi. Keberadaan tempat ini menjadi salah satu bagian dari sistem pelayanan ibadah di Masjid Nabawi.

Saudi Press Agency menjelaskan bahwa pada masa sekarang azan di Masjid Nabawi didukung oleh sistem pengeras suara yang sudah disiapkan dan diuji sebelum digunakan. Para muazin juga menjalankan tugas secara bergantian. Dengan sistem tersebut, suara azan dapat terdengar dengan jelas oleh jamaah yang berada di dalam masjid maupun di kawasan sekitarnya. Bagi jamaah yang datang dari berbagai negara, sistem ini membuat panggilan salat tetap dapat didengar meskipun jumlah orang yang berada di kawasan Masjid Nabawi sangat banyak.

Saat mendengar azan di Masjid Nabawi, jamaah mungkin tidak langsung membayangkan bagaimana azan disampaikan pada masa Rasulullah SAW. Dahulu, Bilal mengumandangkan azan di Madinah dengan sarana yang sederhana. Sekarang, suara azan dapat terdengar melalui sistem pengeras suara yang menjangkau kawasan masjid dan sekitarnya.

Jejak Bilal yang Tetap Dikenang di Madinah

Bilal bin Rabah RA juga memiliki perjalanan hidup yang panjang dalam sejarah Islam. Ia memeluk Islam pada masa awal dakwah dan mengalami berbagai tekanan karena keimanannya. Setelah dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Bilal kemudian menjadi salah satu sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW dan mendapat tugas mengumandangkan azan.

Bagi jamaah yang akan berkunjung ke Madinah, cerita tentang Bilal dapat menjadi pengetahuan sebelum melihat Masjid Nabawi secara langsung. Suara azan yang terdengar sekarang tentu bukan suara Bilal dan kondisi masjid juga sudah sangat berbeda dari masa Rasulullah SAW. Meski demikian, azan tetap terdengar di Masjid Nabawi hingga sekarang.

Bagi calon jamaah yang sedang mencari travel umroh Bandung, mengenal sejarah Madinah dapat menjadi bagian dari persiapan sebelum berangkat. Saat berada di Masjid Nabawi, jamaah dapat melihat langsung tempat yang selama ini dipelajari dari cerita sejarah Islam.

Saat Azan Terdengar di Masjid Nabawi

Ada pengalaman yang mungkin sulit dijelaskan ketika seseorang pertama kali mendengar azan di Masjid Nabawi. Jamaah dari berbagai negara berhenti dari kegiatan mereka dan mulai bersiap untuk salat. Ada yang berjalan menuju masjid, ada yang mengambil wudu dan ada pula yang segera merapikan tempat untuk salat. Suara yang sama terdengar oleh banyak orang dengan bahasa dan latar belakang yang berbeda.

Jika mengingat sejarah Bilal bin Rabah RA, pengalaman tersebut menjadi semakin menarik. Lebih dari empat belas abad lalu, Bilal juga mengumandangkan azan di Madinah ketika masyarakat Muslim sedang membangun kehidupan bersama Rasulullah SAW. Hari ini, suara azan disampaikan dengan bantuan teknologi modern dan sistem pengeras suara yang jauh berbeda dari masa itu. Meski begitu, tujuan panggilan tersebut tetap sama, yaitu mengingatkan kaum Muslimin bahwa waktu salat telah tiba.

Madinah menyimpan banyak cerita seperti ini. Setiap tempat yang dilihat jamaah memiliki sejarah yang panjang dan saling berhubungan dengan kehidupan Rasulullah SAW serta para sahabat. Karena itu, perjalanan umroh dapat menjadi kesempatan untuk mengenal kembali sejarah Islam melalui tempat-tempat yang masih dapat dikunjungi sampai sekarang. Jejak Bilal di tengah sejarah azan di Madinah adalah salah satu cerita yang dapat membuat kunjungan ke Masjid Nabawi terasa lebih berarti.

Baca artikel lainnya

Sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW, Madinah dikenal dengan nama Yatsrib dan telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat. Saudipedia mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah pada tahun 622 M, kota tersebut kemudian dikenal sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah. Hijrah membawa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Yatsrib sekaligus membuka babak baru bagi kota tersebut. […]

...

Air Zamzam yang diminum jamaah di Masjidil Haram berasal dari sumur di dekat Ka’bah. Sebelum tersedia melalui keran dan wadah air seperti sekarang, Zamzam telah menjadi sumber air bagi orang-orang yang tinggal dan datang ke Makkah. Kisah awalnya berkaitan dengan Hajar dan Ismail yang masih bayi, ketika mereka ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah yang belum […]

...

Masjid Qiblatain berada di kawasan Bani Salamah di Madinah. Masjid ini dikenal dalam sejarah Islam karena kawasan tersebut menjadi tempat terjadinya perubahan kiblat salat dari Baitul Maqdis di Yerusalem menuju Ka’bah di Makkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah setelah Rasulullah SAW tinggal di Madinah selama sekitar enam belas atau tujuh belas bulan. Perintah […]

...