Tempat membeli oleh-oleh di Makkah dan Madinah cukup beragam, mulai dari pasar kurma, pertokoan tradisional hingga pusat perbelanjaan modern di sekitar kawasan masjid. Pengunjung bisa menemukan kurma, parfum, sajadah, pakaian, makanan sampai barang yang belakangan ramai dibawa pulang seperti tumbler dari brand lokal Arab Saudi.
Aktivitas perdagangan di dua kota ini juga memiliki sejarah panjang. Pasar tumbuh di sekitar jalur kafilah, kawasan masjid dan tempat singgah para pendatang. Seiring perkembangan kota, sebagian pasar lama bertahan, sebagian berubah bentuk, dan sebagian lainnya hilang karena perluasan kawasan pusat Makkah dan Madinah. Memahami latar tersebut membuat kunjungan ke tempat belanja tidak hanya berhenti pada mencari barang yang akan dibawa pulang.
Sejarah Perdagangan di Makkah
Makkah sudah menjadi tempat pertemuan pedagang, kafilah dan jamaah jauh sebelum kawasan di sekitar Masjidil Haram dipenuhi hotel dan gedung modern. Saudi Press Agency mencatat bahwa pasar-pasar Makkah berkembang mengikuti jalur kafilah dan kedekatannya dengan Masjidil Haram. Souq Al-Layl, Suwaiqa, Misfalah, Ajyad, Al-Hajun, Jarwal dan Al-Shubaikah termasuk nama kawasan perdagangan yang pernah memiliki peran penting dalam kehidupan kota.
Jejak perdagangan Makkah bahkan dapat ditelusuri lebih jauh melalui situs Souq Dhu al-Majaz di Wadi al-Mughammas. Heritage Commission Arab Saudi mencatat bahwa pasar tersebut sudah dikenal sejak masa sebelum Islam dan termasuk dalam kelompok pasar yang berlangsung pada bulan-bulan Haji. Pedagang, penyair dan masyarakat dari berbagai wilayah datang ke pasar tersebut sebelum menuju Makkah.
Perubahan jalur perdagangan juga terjadi setelah masa awal Islam. Pelabuhan Shu’aibah pernah menjadi pelabuhan Makkah sebelum Khalifah Utsman bin Affan memindahkan aktivitas pelabuhan ke Jeddah pada 26 Hijriah. Perubahan tersebut memperkuat hubungan perdagangan Makkah dengan Jeddah, sementara pasar di dalam kota terus berkembang mengikuti kebutuhan penduduk dan jamaah.
Pembangunan kota kemudian mengubah banyak kawasan lama. Beberapa pasar hilang atau berubah bentuk akibat perluasan jalan, hotel dan kawasan pusat kota, sementara pasar seperti Al-Otaibiyah masih mempertahankan karakter pasar rakyat. Akibatnya, Makkah saat ini memiliki dua wajah perdagangan yang berbeda: pusat belanja modern di sekitar Masjidil Haram dan pasar tradisional yang masih digunakan penduduk setempat.
Pusat Belanja di Sekitar Masjidil Haram
Kawasan di sekitar Masjidil Haram menjadi pilihan paling mudah bagi pengunjung yang tidak ingin pergi terlalu jauh dari hotel. Panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah mencantumkan King Abdulaziz Endowment, Makkah Towers, Jabal Omar Towers dan Al-Khalil Square sebagai beberapa kawasan yang memiliki pusat perbelanjaan dan restoran dekat Masjidil Haram. Toko-toko di kawasan tersebut menyediakan kebutuhan jamaah, produk bernuansa Islam, restoran dan sejumlah gerai internasional.
Karakter belanja di kawasan ini lebih modern dibanding pasar tradisional. Pengunjung bisa menemukan toko di dalam gedung hotel, pusat komersial dan area pedestrian yang terhubung dengan jalan menuju Masjidil Haram. Pembayaran elektronik juga lebih umum digunakan, sehingga kawasan tersebut cocok untuk pembelian praktis ketika jamaah tidak memiliki banyak waktu untuk pergi ke bagian lain kota.
Namun, harga dan jenis barang tentu berbeda antara satu toko dengan toko lainnya. Jamaah yang ingin membeli dalam jumlah banyak tetap perlu membandingkan harga, ukuran barang dan kebutuhan bagasi sebelum memutuskan membeli.
Jabal Omar dan Perubahan Kawasan Barat Masjidil Haram
Jabal Omar menjadi contoh bagaimana kawasan di sekitar Masjidil Haram berubah mengikuti perkembangan Makkah. Kawasan ini berada di sebelah barat Masjidil Haram dan kemudian dikembangkan menjadi kompleks hotel, hunian dan area komersial berskala besar. Proyek Jabal Omar diluncurkan pada 2005 dan pekerjaan konstruksi dimulai beberapa tahun setelahnya.
Pengembangan tersebut muncul dari kebutuhan memperbesar kapasitas akomodasi dan layanan bagi jamaah yang terus meningkat. Kawasan ini kemudian ditata dengan hotel, pusat perdagangan, jalan, ruang publik, tempat ibadah dan sistem transportasi yang lebih terhubung dengan Masjidil Haram. Jabal Omar Development Company mengembangkan berbagai hotel dan area komersial, termasuk Souk Al-Khalil dan Souk Makkah Gate.
Akibat pembangunan tersebut, kawasan yang sebelumnya merupakan bagian dari lingkungan lama Makkah berubah menjadi salah satu pusat hospitality dan perdagangan modern di dekat Haram. Jamaah yang menginap atau berjalan di kawasan Jabal Omar sekarang dapat menemukan restoran, toko dan kebutuhan perjalanan tanpa harus menuju pasar tradisional yang lebih jauh.

Conrad Jabal Omar Makkah menjadi salah satu bangunan hotel di kawasan Jabal Omar yang berkembang di sisi barat Masjidil Haram. Foto: King Eliot / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0.
Souq Al-Otaibiyah di Makkah
Untuk melihat suasana perdagangan yang berbeda, Souq Al-Otaibiyah masih mempertahankan karakter pasar rakyat Makkah. Saudi Press Agency pada 2026 menggambarkan pasar ini sebagai salah satu pasar populer yang masih memiliki hubungan kuat dengan kehidupan masyarakat setempat. Deretan toko kecil menjual makanan, kurma, pakaian, kain, perlengkapan rumah dan parfum tradisional.
Al-Otaibiyah tidak berkembang dari proyek pusat perbelanjaan modern. Pasar ini tumbuh bersama lingkungan penduduk dan hubungan antara pedagang dengan pelanggan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Aktivitas biasanya meningkat menjelang Ramadan, Idulfitri dan musim ketika banyak jamaah datang ke Makkah.
Perkembangan pusat perbelanjaan modern di sekitar Haram tidak membuat pasar ini kehilangan seluruh perannya. Al-Otaibiyah tetap digunakan masyarakat karena pilihan barang yang beragam dan karakter pasar yang lebih sederhana. Di sinilah perbedaan antara Makkah lama dan baru bisa terlihat cukup jelas: gedung-gedung besar tumbuh di kawasan pusat, sementara pasar rakyat tetap berjalan di lingkungan kota.
Madinah Tumbuh di Jalur Perdagangan Kafilah
Madinah memiliki sejarah perdagangan yang berbeda dari Makkah. Saudi Press Agency mencatat kota ini sejak lama menjadi tempat singgah kafilah yang bergerak antara Syam di utara dan Yaman di selatan. Barang yang diperdagangkan meliputi hasil pertanian lokal seperti kurma, buah dan biji-bijian, serta kain, pakaian, peralatan rumah tangga dan berbagai barang yang dibawa dari wilayah lain.
Pasar lama Madinah bahkan sering dinamai sesuai barang yang palin banyak dijual. Ada pasar kain, pasar biji-bijian, pasar kurma, pasar roti, pasar penjahit dan berbagai pasar lain yang tumbuh mengikuti kebutuhan penduduk. Pola ini berubah ketika perluasan besar Masjid Nabawi dan penataan kawasan pusat kota memindahkan atau menghilangkan sebagian pasar lama.
Salah satu pasar yang memiliki hubungan dengan sejarah awal Madinah adalah Souq Al-Manakhah. Saudi Press Agency mencatat riwayat yang menghubungkan pembentukan pasar ini dengan Nabi Muhammad SAW setelah beliau tiba di Madinah. Kawasan tersebut berada di barat daya Masjid Nabawi dan kemudian dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas perdagangan kota.
Penataan kawasan sekitar Masjid Nabawi membuat fungsi perdagangan sekarang lebih banyak berpindah ke gedung komersial, toko di bawah hotel dan kawasan baru. Akibatnya, pengunjung masa kini tidak selalu menemukan bentuk pasar lama yang sama seperti beberapa dekade lalu, tetapi sejarah perdagangan tersebut masih membentuk karakter kota.
Pasar Kurma Madinah
Kurma menjadi salah satu barang yang paling sering dicari ketika berada di Madinah, dan hubungan kota ini dengan perkebunan kurma memang sangat kuat. Data National Center for Palms and Dates yang dikutip Saudi Press Agency pada 2026 mencatat wilayah Madinah memiliki lebih dari delapan juta pohon kurma dan lebih dari 15.000 kebun. Produksinya mendekati 347.000 ton dengan puluhan varietas, termasuk Ajwa, Rothana, Safawi dan Barni Madinah atau Mabroom.
Latar pertanian tersebut membuat perdagangan kurma di Madinah bukan sekadar aktivitas untuk wisatawan. Kebun-kebun di wilayah Madinah memasok pasar dan pusat distribusi yang melayani penduduk, pedagang dan pengunjung. Madinah Central Dates Market di Food City juga mencatat penjualan ratusan ribu kilogram kurma dalam periode singkat pada 2026, dengan Ajwa, Safawi dan Sagai menjadi beberapa jenis yang banyak dibeli.

Suasana pasar kurma di Madinah. Perdagangan kurma memiliki hubungan erat dengan perkebunan yang tersebar di wilayah Madinah. Foto: Adiput / Wikimedia Commons — Public Domain.
Pasar ini memiliki jalur lelang dan gerai penjualan eceran. Pasokan datang dari kebun-kebun kurma di Madinah dan wilayah sekitarnya, sehingga pengunjung bisa melihat lebih banyak jenis kurma dibanding toko oleh-oleh biasa. Bagi pembaca yang ingin mengenal Madinah lebih jauh, kunjungan ke pasar kurma juga memberi gambaran tentang salah satu kegiatan ekonomi utama yang sudah lama melekat dengan kota tersebut.
Quba Avenue di Madinah
Quba Avenue berada di jalur antara Masjid Nabawi dan Masjid Quba. Kawasan ini memiliki latar sejarah yang kuat karena Masjid Quba berkaitan langsung dengan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Sumber resmi Saudi mencatat Masjid Quba sebagai masjid pertama yang dibangun setelah kedatangan Nabi di Madinah, dan beliau ikut meletakkan batu pertama bersama para sahabat.
Kawasan tersebut kemudian terus berkembang mengikuti bertambahnya jumlah penduduk dan pengunjung. Madinah Region Development Authority menata koridor antara Masjid Nabawi dan Masjid Quba menjadi jalur pedestrian sekitar tiga kilometer. Fasad bangunan, ruang berjalan kaki dan fasilitas di sepanjang jalur ditata untuk mempertahankan karakter kota sekaligus melayani kebutuhan pengunjung.
Perubahan tersebut membuat Quba Avenue sekarang memiliki fungsi yang lebih luas. Selain menjadi jalur yang menghubungkan dua kawasan penting Madinah, di sepanjangnya terdapat toko, restoran dan ruang aktivitas masyarakat. Fungsi komersial tumbuh mengikuti penataan jalur bersejarah dan meningkatnya jumlah orang yang berjalan antara kawasan Masjid Nabawi dan Quba.

Jalur pejalan kaki di kawasan Masjid Quba, Madinah. Kawasan Quba terus berkembang dengan ruang pedestrian dan berbagai fasilitas bagi pengunjung. Foto: Kaliper1 / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0.
Tumbler 1/2M yang Sedang Ramai Dicari
Pilihan oleh-oleh dari Arab Saudi juga berubah mengikuti tren. Kurma, parfum dan sajadah tetap banyak dibawa pulang, tetapi pada 2026 tumbler dari Half Million atau 1/2M mulai ramai dibicarakan di kalangan jamaah Indonesia. RRI melaporkan bahwa tumbler Half Million menjadi salah satu barang yang banyak dicari, bahkan beberapa pembeli harus menghadapi antrean atau kehabisan stok untuk warna tertentu.
Nama Half Million sendiri memiliki cerita yang cukup menarik. Situs resmi perusahaan menyebut bisnis ini bermula di Riyadh ketika para pendirinya memulai usaha dengan modal 500.000 riyal. Modal tersebut kemudian menjadi asal nama Half Million atau “setengah juta”, dan cabang pertama dibuka di Tahlia Street, Riyadh, pada 2018.

Gerai pertama Half Million di Tahlia Street, Riyadh. Brand kopi lokal Saudi ini kemudian berkembang ke berbagai kota di Arab Saudi. Foto: Half Million / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0.
Pertumbuhan budaya kopi di Arab Saudi dan strategi ekspansi perusahaan membuat Half Million berkembang cukup cepat. Pada 2026, perusahaan mencatat puluhan cabang di seluruh Saudi, termasuk cabang di Makkah dan Madinah. Perusahaan juga menjual merchandise melalui toko resminya, sehingga brand ini tidak lagi dikenal hanya karena kopinya.
Popularitas tumbler di kalangan jamaah Indonesia menunjukkan perubahan menarik dalam kebiasaan membawa buah tangan. Barang yang dulu didominasi makanan, wewangian dan perlengkapan ibadah sekarang mulai berdampingan dengan produk gaya hidup dari brand lokal Saudi. Tumbler 1/2M menjadi contoh bagaimana oleh-oleh modern bisa muncul dari perkembangan budaya kota, bukan dari tradisi perdagangan lama.
Oleh-Oleh yang Bisa Dicari di Makkah dan Madinah
Setiap kawasan memiliki jenis dan ketegori barang yang berbeda. Pusat perbelanjaan di sekitar Masjidil Haram lebih praktis untuk mencari berbagai kebutuhan dalam satu tempat, sedangkan Al-Otaibiyah menawarkan suasana pasar rakyat dengan pilihan pakaian, parfum, makanan dan barang sehari-hari. Di Madinah, pasar kurma memberi lebih banyak pilihan varietas dan ukuran, sementara Quba Avenue menawarkan gabungan toko, makanan dan suasana pedestrian.
Jamaah tidak harus membeli semua barang di satu tempat. Daftar oleh-oleh bisa disusun sebelum berangkat agar lebih mudah menentukan barang mana yang dicari di Makkah dan mana yang lebih cocok dibeli di Madinah. Kurma, misalnya, memiliki hubungan kuat dengan produksi lokal Madinah, sedangkan produk modern seperti tumbler Half Million bisa dicari di cabang resmi brand tersebut.
Harga tetap perlu dibandingkan karena lokasi dekat masjid, pasar tradisional dan pusat komersial memiliki karakter biaya yang berbeda. Periksa juga kualitas produk, tanggal kedaluwarsa makanan, kemasan kurma dan kondisi barang sebelum membayar.
Cek Kapasitas Bagasi Sebelum Membeli Banyak Barang
Oleh-oleh sering terlihat ringan ketika dibeli satu per satu, tetapi beratnya baru terasa setelah seluruh barang masuk ke koper. Kurma, botol minum, parfum, pakaian dan makanan bisa menambah berat bagasi cukup cepat.
Sebelum membeli dalam jumlah banyak, jamaah perlu mengetahui batas bagasi maskapai yang digunakan. Barang berbentuk cairan, baterai atau benda tertentu juga memiliki aturan berbeda antara bagasi tercatat dan kabin. Informasi tersebut sebaiknya diperiksa berdasarkan maskapai dan tiket masing-masing, bukan menggunakan patokan umum dari perjalanan orang lain.
Daftar belanja yang sudah dibuat sejak awal akan memudahkan pembagian barang antara koper dan tas kabin. Jamaah juga tidak perlu membawa terlalu banyak barang saat berpindah dari Madinah ke Makkah atau sebaliknya.
Mengenal Kota Lewat Kawasan Perdagangan
Pasar dan kawasan belanja di Makkah serta Madinah menunjukkan perubahan dua kota dari masa ke masa. Jalur kafilah melahirkan pasar tradisional, perluasan kawasan masjid mengubah pusat kota, proyek seperti Jabal Omar menghadirkan pusat komersial modern, sementara Madinah mempertahankan hubungan yang kuat dengan perdagangan kurma dan kawasan bersejarah seperti Quba.
Karena itu, mencari oleh-oleh tidak harus dipandang hanya sebagai kegiatan membeli barang. Pengunjung juga bisa melihat bagaimana penduduk Makkah dan Madinah berdagang, bagaimana kawasan lama berubah, serta bagaimana produk baru seperti tumbler 1/2M muncul di tengah tradisi oleh-oleh yang sudah berlangsung lama.
Calon jamaah yang sedang mencari travel umroh Bandung dapat menanyakan jadwal perjalanan, lokasi hotel dan waktu luang dalam program sebelum keberangkatan. Dengan susunan perjalanan yang jelas, kegiatan di luar ibadah seperti membeli kebutuhan atau oleh-oleh bisa dilakukan tanpa mengubah agenda utama selama berada di Tanah Suci.
