Masjidil Haram memiliki banyak pintu dan jalur keluar masuk yang digunakan jamaah setiap hari. Rombongan yang datang bersama belum tentu kembali melalui jalur yang sama setelah salat, tawaf atau sa’i. Karena itu, mengenali nama atau nomor pintu Masjidil Haram dan menentukan titik bertemu sejak awal cukup penting, terutama saat jamaah mulai berpencar untuk beribadah atau beraktivitas masing-masing.
Panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga mengingatkan jamaah yang datang menggunakan bus untuk mengingat lokasi pemberhentian kendaraan dan memastikan titik pertemuan setelah selesai menjalankan umroh. Persiapan seperti ini terlihat sederhana, tetapi kondisi Masjidil Haram yang luas dan ramai membuat patokan yang jelas lebih mudah digunakan dibanding hanya mengandalkan ingatan jalan.
Pintu Masjidil Haram
Pintu Masjidil Haram tersebar di berbagai sisi kawasan masjid dan digunakan untuk mengatur arus jamaah yang masuk maupun keluar. Saudi Press Agency pada Maret 2026 menyebut terdapat sekitar 257 pintu yang tersebar di sisi timur, barat, utara dan selatan Masjidil Haram.
Jumlah pintu yang banyak membuat jamaah perlu memperhatikan nama atau nomor pintu yang digunakan. Patokan seperti “pintu dekat hotel”, “sebelah kanan” atau “dekat tangga” mungkin masih mudah dipahami ketika rombongan berjalan bersama, tetapi menjadi lebih sulit digunakan ketika jamaah sudah berada di lokasi yang berbeda.
Pada beberapa pintu terdapat nama dan nomor yang bisa dicatat atau difoto. Informasi tersebut lebih mudah disampaikan kepada anggota rombongan, petugas maupun pembimbing ketika seseorang harus mencari kembali lokasi tertentu.
Lima Pintu Utama Masjidil Haram
Di antara banyaknya pintu yang ada, lima pintu utama cukup sering disebut dalam panduan resmi Masjidil Haram. Kelimanya adalah King Abdulaziz Gate atau Pintu Raja Abdulaziz Nomor 1, King Fahd Gate Nomor 79, King Abdullah Gate Nomor 100, Umrah Gate Nomor 62 dan Al-Fath Gate Nomor 45.
Nama pintu tersebut juga muncul dalam panduan perjalanan umroh yang diterbitkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Jamaah tidak harus menghafal seluruh pintu Masjidil Haram, tetapi mengenali beberapa pintu utama akan memudahkan ketika membaca peta, mengikuti papan petunjuk atau mendengar arahan dari pembimbing.
Pintu yang digunakan rombongan juga bisa berbeda mengikuti lokasi hotel, arah kedatangan dan pengaturan jamaah pada waktu tersebut. Karena itu, nama pintu yang digunakan sebaiknya dilihat langsung ketika tiba di kawasan Masjidil Haram, bukan hanya mengandalkan informasi yang pernah digunakan pada perjalanan sebelumnya.
Mengenal Area Mataf dan Masa’a
Jamaah yang membaca papan petunjuk di Masjidil Haram juga akan menemukan beberapa istilah yang mungkin belum familiar, salah satunya Mataf. Mataf adalah area di sekitar Ka’bah yang digunakan jamaah untuk melaksanakan tawaf. Di kawasan inilah jamaah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dalam rangkaian umroh atau tawaf lainnya.
Kementerian Haji dan Umrah menjelaskan Mataf sebagai area tawaf yang mengelilingi Ka’bah. Kawasan tersebut memiliki beberapa tingkat, sehingga akses menuju area tawaf dapat berbeda mengikuti lantai yang digunakan dan kondisi jamaah saat itu.
Istilah lain yang cukup sering ditemukan adalah Masa’a atau Mas’a, yaitu jalur yang digunakan jamaah untuk melaksanakan sa’i antara Bukit Safa dan Marwah. Setelah menyelesaikan tawaf, jamaah umroh biasanya bergerak menuju kawasan ini untuk menjalankan tujuh kali perjalanan antara Safa dan Marwah.
Mataf dan Masa’a berada dalam kompleks Masjidil Haram, tetapi jalur masuk dan keluarnya tidak selalu sama. Pada Agustus 2025, otoritas Masjidil Haram menjelaskan bahwa akses langsung menuju Mataf antara lain tersedia melalui King Fahd Gate, King Abdulaziz Gate dan Al-Salam Basement. Sementara jamaah yang keluar dari area Masa’a dapat menggunakan beberapa akses seperti Al-Safa Gate, Al-Nabi Gate, Al-Marwah Gate dan jembatan di kawasan Marwah. Pengaturan akses tetap mengikuti kondisi operasional di lapangan.
Memahami Beberapa Istilah di Masjidil Haram
Selain Mataf dan Masa’a, jamaah juga akan menemukan istilah pelataran Masjidil Haram. Pelataran adalah kawasan terbuka di sekeliling bangunan masjid yang menjadi jalur utama pergerakan jamaah menuju pintu masuk, hotel, jalan raya dan berbagai fasilitas lainnya.
Ada pula istilah Third Saudi Expansion atau Perluasan Saudi Ketiga. Kawasan ini merupakan bagian dari pengembangan Masjidil Haram yang berada di sisi utara kompleks masjid dan memiliki pintu, ruang salat, lift, eskalator serta jalur tersendiri. King Abdullah Gate menjadi salah satu pintu utama di kawasan tersebut.
Istilah bridge atau jembatan juga sering muncul dalam peta dan papan petunjuk. Beberapa jembatan seperti Ajyad, Al-Shubaika dan Al-Arqam digunakan untuk menghubungkan area luar dengan lantai tertentu di Masjidil Haram. Karena itu, jamaah yang diarahkan melalui jembatan tidak selalu akan tiba di lantai dasar.
Memahami istilah tersebut membuat petunjuk arah lebih mudah dibaca. Jamaah tidak perlu menghafal seluruh bagian Masjidil Haram, tetapi setidaknya mengetahui perbedaan Mataf, Masa’a, pelataran dan pintu yang digunakan rombongan.
Menentukan Titik Bertemu dengan Rombongan
Titik bertemu sebaiknya ditentukan sebelum jamaah berpencar. Lokasinya bisa menggunakan nama atau nomor pintu, papan penunjuk tertentu atau tempat lain yang mudah dikenali oleh seluruh anggota rombongan.
Pintu Masjidil Haram bisa menjadi salah satu patokan karena memiliki nama dan nomor yang lebih jelas. Jika rombongan memilih Pintu Raja Fahd Nomor 79 sebagai titik bertemu, misalnya, seluruh anggota memiliki informasi yang sama untuk dicari dibanding hanya menggunakan petunjuk seperti “dekat pintu besar” atau “dekat jalan menuju hotel”.
Namun, titik tersebut tidak perlu dianggap sebagai jalur yang harus digunakan setiap saat. Pengaturan arus jamaah bisa berubah ketika kondisi sedang padat dan petugas dapat mengarahkan pengunjung menuju pintu atau jalur lain. Karena itu, titik bertemu berfungsi sebagai tempat yang sudah disepakati, sedangkan akses menuju lokasi tetap mengikuti arahan di lapangan.
Simpan Nama dan Nomor Pintu di Ponsel
Saat tiba di pintu Masjidil Haram, jamaah bisa memotret nama dan nomor pintu sebelum masuk. Foto sederhana sering lebih mudah digunakan ketika jamaah lupa nama pintu atau harus menjelaskannya kepada petugas.
Lokasi tersebut juga bisa disimpan melalui peta di ponsel atau dikirim ke grup keluarga dan rombongan. Jamaah kemudian memiliki lebih dari satu patokan ketika hendak kembali ke titik pertemuan.
Cara ini terutama berguna bagi jamaah yang baru pertama kali berada di Makkah. Bangunan, hotel dan jalur di sekitar Masjidil Haram cukup banyak, sedangkan kondisi pada siang dan malam hari bisa terlihat berbeda. Menyimpan foto pintu dan lokasi hotel akan membuat informasi tersebut lebih mudah ditemukan kembali.
Pintu Masuk dan Keluar Masjidil Haram
Jamaah tidak selalu keluar melalui pintu yang sama dengan saat masuk. Setelah tawaf, sa’i atau salat, arus jamaah bisa membawa rombongan menuju jalur berbeda, terutama pada waktu yang lebih ramai.
Pada Juli 2026, otoritas Masjidil Haram menjelaskan penggunaan layar petunjuk elektronik di pintu dan pelataran luar masjid. Layar tersebut menampilkan informasi mengenai pintu yang tersedia, akses terdekat serta kondisi kepadatan di area Mataf dan Masa’a secara real time.
Informasi pada layar bisa menjadi acuan ketika jamaah menemukan pintu yang biasa digunakan sedang padat atau aksesnya diarahkan ke jalur lain. Petugas di lapangan juga mengatur pergerakan jamaah mengikuti kondisi di dalam masjid, sehingga arah keluar yang digunakan pada satu waktu belum tentu sama pada kunjungan berikutnya.
Karena itu, jamaah sebaiknya tidak memaksakan kembali melalui jalur tertentu ketika petugas sudah memberikan arahan berbeda. Setelah keluar, lokasi titik bertemu dapat dicari kembali menggunakan nomor pintu, peta atau informasi yang sudah disimpan sebelumnya.
Gunakan Peta Masjidil Haram
Kementerian Haji dan Umrah menyediakan peta interaktif untuk membantu jamaah mengenali kawasan Masjidil Haram. Peta tersebut menampilkan pintu, jembatan, eskalator, lift, akses bagi pengguna kursi roda, tempat pembagian kursi roda, pusat pertolongan pertama serta titik bantuan bagi jamaah yang kehilangan arah.
Nama seperti King Abdullah Gate, Umrah Gate, King Fahd Gate, King Abdulaziz Gate, Al-Salam Gate, Ajyad Bridge hingga kawasan Safa dan Marwah juga terlihat dalam peta tersebut. Jamaah bisa melihat hubungan antara satu area dengan area lainnya sebelum menentukan titik bertemu.
Peta tidak harus dipelajari seluruhnya dalam satu waktu. Jamaah cukup melihat bagian yang berhubungan dengan hotel, pintu yang digunakan rombongan dan lokasi kegiatan yang akan dituju. Cara seperti ini lebih mudah dibanding mencoba menghafal seluruh kompleks Masjidil Haram sekaligus.
Titik Bertemu untuk Jamaah Lansia dan Anak
Pemilihan titik bertemu perlu menyesuaikan kondisi anggota rombongan. Jamaah lansia sebaiknya tidak diarahkan ke lokasi yang terlalu jauh dari jalur yang biasa digunakan atau mengharuskan mereka berpindah lantai berkali-kali.
Masjidil Haram memiliki lift, eskalator, akses kursi roda dan beberapa jalur yang disiapkan untuk jamaah dengan keterbatasan mobilitas. Jika rombongan membawa orang tua, lokasi titik bertemu bisa disesuaikan dengan jalur yang mudah mereka gunakan dan dekat dengan tempat pendamping menunggu.
Untuk anak-anak, orang tua perlu memastikan mereka mengetahui nama orang tua atau pendamping dan tetap berada bersama keluarga selama di kawasan masjid. Kementerian Haji dan Umrah juga menganjurkan penggunaan gelang identitas yang mencantumkan nama serta informasi kontak wali.
Titik bertemu tetap perlu dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Anak mungkin belum memahami nomor pintu yang panjang, sehingga orang tua bisa menunjukkan langsung lokasi dan papan yang harus dikenali sebelum rombongan berpencar.
Terpisah dari Rombongan
Ketika tidak menemukan anggota rombongan, jamaah tidak perlu terus berjalan tanpa arah dan semakin menjauh dari lokasi terakhir. Jamaah bisa kembali ke titik pertemuan yang telah disepakati atau meminta bantuan petugas di sekitar Masjidil Haram.
Panduan resmi juga menampilkan lost persons guidance points, yaitu titik bantuan bagi jamaah yang kehilangan arah. Selain itu, pusat layanan jamaah di Masjidil Haram beroperasi selama 24 jam dan menerima berbagai kebutuhan pengunjung, termasuk penanganan jamaah yang terpisah dari keluarga atau pendamping.
Nomor pembimbing atau tour leader sebaiknya sudah tersimpan sebelum jamaah meninggalkan hotel. Informasi hotel juga perlu dibawa karena nama hotel bisa digunakan untuk menjelaskan lokasi tempat rombongan menginap jika jamaah harus meminta bantuan.
Pembahasan mengenai pusat layanan, barang hilang dan nomor bantuan 1966 bisa dibaca lebih lengkap dalam artikel Mengenal Pusat Layanan Jamaah 24 Jam di Masjidil Haram.
Persiapan Sebelum Menuju Masjidil Haram
Sebelum rombongan meninggalkan hotel, beberapa informasi bisa disampaikan kembali seperti nama pintu yang digunakan, titik bertemu, waktu berkumpul dan nomor pendamping. Jamaah juga perlu mengetahui apakah setelah kegiatan selesai mereka kembali ke hotel bersama rombongan atau boleh kembali sendiri.
Panduan Kementerian Haji dan Umrah secara khusus mengingatkan jamaah yang datang menggunakan bus agar mengingat lokasi pemberhentian kendaraan dan memastikan tempat bertemu setelah menyelesaikan umroh. Informasi mengenai kendaraan menjadi penting karena kawasan Masjidil Haram memiliki beberapa titik akses transportasi seperti Jarwal, Ajyad dan kawasan lain yang digunakan mengikuti rute perjalanan.
Rombongan yang sudah mempunyai titik bertemu akan lebih mudah melakukan pengecekan sebelum kembali ke hotel atau kendaraan. Pembimbing juga bisa mengetahui lebih cepat jika ada anggota yang belum kembali pada waktu yang ditentukan.
Mengenali Area Masjidil Haram Sebelum Umroh
Pintu Masjidil Haram tidak hanya berfungsi sebagai tempat jamaah masuk dan keluar. Nama dan nomor pintu juga bisa digunakan sebagai patokan ketika rombongan menentukan titik bertemu, mencari jalan menuju hotel atau menjelaskan lokasi kepada petugas.
Jamaah tidak perlu menghafal sekitar 257 pintu yang ada di Masjidil Haram. Cukup mengenali pintu yang sering digunakan rombongan, memahami perbedaan area Mataf dan Masa’a, menyimpan lokasi hotel serta mengetahui titik yang harus dituju setelah kegiatan selesai.
Informasi seperti ini bisa mulai dibahas saat manasik sebelum keberangkatan. Calon jamaah yang sedang mencari travel umroh Bandung juga bisa menanyakan lokasi hotel, akses menuju Masjidil Haram, pengaturan rombongan serta pendampingan selama berada di Makkah sebelum memilih program umroh.
Ketika sudah tiba di Makkah, kondisi di lapangan tetap menjadi acuan utama. Pintu yang digunakan, jalur menuju Mataf atau Masa’a dan arah keluar bisa mengikuti pengaturan petugas serta kepadatan jamaah pada waktu tersebut. Mengenali pintu dan titik bertemu sejak awal membuat rombongan mempunyai patokan yang sama selama beraktivitas di Masjidil Haram.
sumber foto: IslamicLandmarks.com
