Masjid Bir Ali Dzulhulaifah tempat miqat jamaah dari Madinah
Jamaah InsanQolbu saat berada di kawasan Masjid Bir Ali atau Dzulhulaifah sebelum melanjutkan perjalanan dari Madinah menuju Makkah.

Mengenal Masjid Bir Ali sebagai Tempat Miqat Jamaah dari Madinah

Perjalanan dari Madinah menuju Makkah menjadi salah satu bagian penting bagi jamaah yang akan melaksanakan umroh. Sebelum memasuki Makkah, jamaah yang berangkat dari Madinah akan terlebih dahulu melewati tempat yang dikenal sebagai Bir Ali.

Di tempat inilah jamaah mulai memasuki keadaan ihram sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Masjid yang berada di kawasan Dzulhulaifah tersebut menjadi tempat miqat bagi penduduk Madinah serta jamaah yang datang melalui jalur Madinah.

Bagi jamaah yang baru pertama kali berangkat umroh, Bir Ali mungkin hanya dikenal sebagai tempat mengenakan pakaian ihram dan berniat. Padahal, kawasan ini juga memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan Rasulullah SAW menuju Makkah.

Mengenal Masjid Bir Ali di Madinah

Masjid Bir Ali berada di kawasan Dzulhulaifah, Madinah. Tempat ini juga dikenal sebagai Masjid Dzulhulaifah atau Masjid Miqat Dzulhulaifah.

Lokasinya berada sekitar 14 kilometer dari Masjid Nabawi. Jamaah yang meninggalkan Madinah menuju Makkah biasanya menggunakan bus dan singgah terlebih dahulu di kawasan ini sebelum melanjutkan perjalanan.

Dzulhulaifah menjadi miqat bagi penduduk Madinah dan siapa pun yang melewati jalur tersebut dengan tujuan melaksanakan haji atau umroh.

Dasar penetapan tersebut juga terdapat dalam hadis sahih.

Dari Ibnu Abbas RA diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menetapkan Dzulhulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah, Al-Juhfah bagi penduduk Syam, Qarnul Manazil bagi penduduk Najd, serta Yalamlam bagi penduduk Yaman. Ketentuan tersebut juga berlaku bagi orang lain yang melewati tempat-tempat tersebut dengan tujuan melaksanakan haji atau umroh.

Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari No. 1530.

Karena itu, jamaah yang berangkat menuju Makkah setelah lebih dahulu berada di Madinah akan berhubungan langsung dengan Dzulhulaifah atau Bir Ali.

Mengapa Dzulhulaifah Menjadi Miqat Jamaah dari Madinah?

Miqat merupakan batas yang telah ditentukan bagi seseorang yang hendak melaksanakan haji atau umroh untuk mulai memasuki keadaan ihram.

Rasulullah SAW menetapkan beberapa tempat miqat sesuai arah kedatangan jamaah. Dzulhulaifah ditetapkan bagi penduduk Madinah dan orang-orang yang melewati jalur tersebut menuju Makkah.

Jamaah yang datang dari Madinah kemudian mempersiapkan ihram sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa Bir Ali bukan sekadar tempat persinggahan bus. Jamaah yang sudah berniat umroh mulai terikat dengan ketentuan ihram yang harus dijaga hingga rangkaian ibadahnya selesai.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 196:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa umroh merupakan rangkaian ibadah yang harus dijalankan sesuai ketentuannya sejak jamaah memasuki ihram hingga menyelesaikan seluruh rangkaiannya.

Bir Ali Juga Dikenal sebagai Dzulhulaifah

Masyarakat Indonesia lebih familiar dengan nama Bir Ali. Namun dalam berbagai sumber resmi Arab Saudi, tempat ini disebut Dzulhulaifah atau Abyar Ali.

Saudipedia menjelaskan bahwa nama Dzulhulaifah berkaitan dengan nama tumbuhan yang dahulu banyak ditemukan di kawasan tersebut.

Sementara nama Abyar Ali dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib RA yang disebut memerintahkan penggalian sumur ketika berada di Dzulhulaifah. Dari penyebutan tersebut kemudian muncul nama yang lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai Bir Ali.

Tempat ini juga dikenal dengan nama Masjid al-Shajarah atau Masjid Pohon. Nama tersebut berkaitan dengan riwayat Rasulullah SAW yang pernah singgah di kawasan itu ketika melakukan perjalanan menuju Makkah.

Beberapa nama tersebut merujuk pada kawasan yang sama, yaitu Dzulhulaifah sebagai tempat miqat jamaah yang datang dari arah Madinah.

Jejak Perjalanan Rasulullah SAW di Dzulhulaifah

Dzulhulaifah tidak hanya dikenal sebagai batas miqat. Kawasan ini juga mempunyai hubungan dengan perjalanan Rasulullah SAW dari Madinah menuju Makkah.

Dalam Sahih Muslim terdapat riwayat Abdullah bin Umar RA yang menyebut Rasulullah SAW memasuki keadaan ihram di dekat masjid Dzulhulaifah. Riwayat tersebut sekaligus menyebut talbiyah yang dibaca Rasulullah SAW.

Hal tersebut membuat Bir Ali memiliki arti tersendiri bagi jamaah.

Jamaah tidak hanya berhenti untuk mempersiapkan ihram, tetapi juga berada pada salah satu kawasan yang mempunyai hubungan langsung dengan perjalanan Rasulullah SAW menuju Makkah.

Mengetahui sejarah tempat seperti ini dapat membantu jamaah memahami lokasi yang mereka kunjungi selama perjalanan umroh, bukan sekadar datang, berfoto, kemudian melanjutkan perjalanan.

Apa yang Dilakukan Jamaah Saat Tiba di Bir Ali?

Sebelum tiba di Bir Ali, jamaah biasanya sudah mendapatkan arahan dari pembimbing mengenai persiapan ihram.

Jamaah laki-laki mempersiapkan dua lembar kain ihram, sedangkan jamaah perempuan tetap menggunakan pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan.

Sebagian rombongan sudah mengenakan pakaian ihram sejak dari hotel di Madinah agar persiapan di Bir Ali menjadi lebih mudah. Jamaah kemudian dapat berwudhu dan memastikan kembali perlengkapan sebelum rombongan melanjutkan perjalanan.

Hal terpenting adalah mengetahui kapan mulai berniat.

Pakaian ihram dan keadaan ihram merupakan dua hal yang berbeda. Mengenakan kain ihram belum dengan sendirinya membuat seorang jamaah memasuki keadaan ihram.

Setelah jamaah berniat umroh pada miqat, ketentuan ihram mulai berlaku.

Karena itu, arahan pembimbing sangat dibutuhkan agar jamaah tidak bingung mengenai urutan yang harus dilakukan ketika berada di Bir Ali.

Pembahasan lebih lengkap mengenai pengertian miqat, waktu berniat dan persiapan ihram dapat dibaca pada artikel Mengenal Miqat dan Persiapan Jamaah Sebelum Memulai Ibadah Umroh.

Talbiyah Mulai Mengiringi Perjalanan Menuju Makkah

Setelah berniat dan memasuki keadaan ihram, jamaah akan melanjutkan perjalanan menuju Makkah.

Salah satu bacaan yang kemudian banyak terdengar dari jamaah adalah talbiyah.

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan talbiyah Rasulullah SAW:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika lak.

Artinya:

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Talbiyah tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim No. 1184.

Bacaan inilah yang kemudian mengiringi perjalanan jamaah setelah meninggalkan Bir Ali menuju Makkah.

Bagi jamaah yang baru pertama kali berangkat, suasana tersebut dapat menjadi bagian yang mudah diingat. Setelah beberapa hari berada di Madinah, rombongan kini meninggalkan kota tersebut dalam keadaan ihram dan bersiap menjalankan umroh di Makkah.

Perjalanan dari Bir Ali Menuju Makkah

Setelah seluruh jamaah selesai mempersiapkan ihram dan berniat, rombongan kembali menuju kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.

Perjalanan darat dari Madinah menuju Makkah membutuhkan waktu beberapa jam. Karena itu, jamaah biasanya sudah mendapat informasi mengenai kendaraan, tempat duduk, waktu istirahat dan kebutuhan selama perjalanan.

Jamaah juga perlu lebih berhati-hati karena sejak memasuki ihram terdapat sejumlah larangan yang harus dijaga.

Bagi jamaah laki-laki maupun perempuan, ketentuan ihram memiliki beberapa perbedaan. Hal tersebut sebaiknya sudah dipahami saat manasik sebelum keberangkatan.

Pembimbing kemudian mempunyai peran untuk kembali mengingatkan jamaah ketika perjalanan berlangsung.

Jika ada hal yang belum dipahami mengenai ihram, jamaah sebaiknya bertanya kepada pembimbing daripada mengambil kesimpulan sendiri.

Masjid Bir Ali Melayani Jutaan Jamaah

Bir Ali menjadi salah satu tempat yang ramai dilewati jamaah haji dan umroh.

Saudi Press Agency melaporkan Masjid Miqat Dzulhulaifah menerima lebih dari 15 juta pengunjung sepanjang 2025. Sejumlah fasilitas juga dikembangkan untuk mendukung pergerakan jamaah, mulai dari tempat wudhu dan toilet, penunjuk arah, area parkir bus hingga peningkatan fasilitas masjid.

Kapasitas masjid juga telah ditingkatkan untuk menampung jamaah dalam jumlah yang lebih besar.

Besarnya jumlah jamaah yang datang membuat rombongan tetap perlu menjaga koordinasi.

Jamaah sebaiknya mengetahui nomor bus, titik berkumpul serta siapa pembimbing yang dapat dihubungi apabila terpisah dari rombongan.

Hal tersebut semakin penting bagi jamaah lansia atau jamaah yang membutuhkan pendampingan.

Persiapan Sebelum Jamaah Meninggalkan Madinah

Persiapan menuju Bir Ali sebaiknya sudah dilakukan sebelum jamaah meninggalkan hotel di Madinah.

Jamaah laki-laki perlu memastikan kain ihram sudah tersedia dan memahami cara menggunakannya. Jamaah juga perlu menyiapkan barang-barang yang akan dibutuhkan selama perjalanan menuju Makkah.

Dokumen perjalanan, kartu identitas jamaah, obat rutin, ponsel dan barang penting sebaiknya ditempatkan di tas yang mudah dijangkau.

Jamaah juga perlu mengetahui nomor kendaraan dan titik berkumpul rombongan.

Bagi jamaah lansia, pendamping sebaiknya memastikan obat dan kebutuhan pribadi dapat diakses dengan mudah selama perjalanan.

Persiapan seperti ini terlihat sederhana, tetapi sangat membantu ketika rombongan harus bergerak bersama dalam jumlah besar.

Memahami Bir Ali Sebelum Berangkat Umroh

Bir Ali bukan hanya tempat berhenti dalam perjalanan dari Madinah menuju Makkah.

Di kawasan Dzulhulaifah inilah jamaah yang datang dari arah Madinah mengambil miqat dan mulai memasuki keadaan ihram untuk menjalankan umroh.

Dasarnya juga jelas. Rasulullah SAW menetapkan Dzulhulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah dan orang-orang yang melewati jalur tersebut untuk melaksanakan haji atau umroh.

Jamaah kemudian meninggalkan Bir Ali sambil bertalbiyah dan menuju Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah.

Bagi masyarakat yang sedang mencari travel umroh Bandung, informasi mengenai rute dan tempat miqat dapat ditanyakan sejak sebelum mendaftar.

Program yang dimulai dari Madinah memiliki persiapan miqat yang berbeda dengan program yang lebih dahulu menuju Jeddah. Karena itu, mengetahui urutan perjalanan membantu jamaah memahami apa yang akan dilakukan sebelum sampai di Makkah.

Manasik juga menjadi waktu yang tepat untuk mempelajari penggunaan pakaian ihram, niat, miqat, talbiyah serta larangan ihram.

Insan Qolbu Travel memberikan pembekalan manasik sebagai bagian dari persiapan jamaah sebelum keberangkatan. Jamaah dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk bertanya mengenai rute perjalanan dan tahapan ibadah yang akan dijalankan.

Dengan memahami Bir Ali sejak sebelum berangkat, jamaah tidak hanya mengetahui nama tempat yang akan dikunjungi, tetapi juga memahami alasan mengapa perjalanan dari Madinah menuju Makkah harus melewati tahapan tersebut.

Baca artikel lainnya

Sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW, Madinah dikenal dengan nama Yatsrib dan telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat. Saudipedia mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah pada tahun 622 M, kota tersebut kemudian dikenal sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah. Hijrah membawa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Yatsrib sekaligus membuka babak baru bagi kota tersebut. […]

...

Air Zamzam yang diminum jamaah di Masjidil Haram berasal dari sumur di dekat Ka’bah. Sebelum tersedia melalui keran dan wadah air seperti sekarang, Zamzam telah menjadi sumber air bagi orang-orang yang tinggal dan datang ke Makkah. Kisah awalnya berkaitan dengan Hajar dan Ismail yang masih bayi, ketika mereka ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah yang belum […]

...

Masjid Qiblatain berada di kawasan Bani Salamah di Madinah. Masjid ini dikenal dalam sejarah Islam karena kawasan tersebut menjadi tempat terjadinya perubahan kiblat salat dari Baitul Maqdis di Yerusalem menuju Ka’bah di Makkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah setelah Rasulullah SAW tinggal di Madinah selama sekitar enam belas atau tujuh belas bulan. Perintah […]

...