Sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW, Madinah dikenal dengan nama Yatsrib dan telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat. Saudipedia mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah pada tahun 622 M, kota tersebut kemudian dikenal sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah.
Hijrah membawa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Yatsrib sekaligus membuka babak baru bagi kota tersebut. Setelah peristiwa itu, Madinah berkembang menjadi pusat kehidupan umat Islam, tempat berdirinya Masjid Nabawi dan tempat Rasulullah SAW menjalani sekitar sepuluh tahun terakhir kehidupan beliau. Saudipedia juga mencatat Madinah sebagai ibu kota pertama dalam sejarah Islam.
Yatsrib Sebelum Hijrah Nabi Muhammad SAW
Nama Yatsrib telah dikenal sebelum Nabi Muhammad SAW datang dari Makkah. Di wilayah tersebut terdapat kelompok Aus dan Khazraj yang kemudian banyak dikenal dalam sejarah Islam sebagai bagian dari kaum Ansar. Sejumlah komunitas Yahudi juga tinggal di kawasan tersebut. Kehidupan masyarakat Yatsrib dengan demikian telah terbentuk sebelum hijrah berlangsung.
Kota itu berada di wilayah Hijaz dan memiliki lingkungan yang berbeda dari Makkah. Kawasan Madinah dikelilingi pegunungan, lembah dan wilayah berbatu vulkanik yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai harrat. Sumber air, kebun dan sejumlah lembah juga menjadi bagian dari bentang alam kota. Beberapa nama geografis seperti Wadi Al-Aqiq, Wadi Buthhan dan Gunung Uhud tetap dikenal hingga sekarang.
Yatsrib sudah memiliki permukiman dan masyarakat sebelum hijrah berlangsung, kemudian kedatangan Nabi Muhammad SAW dan para Muhajirin membawa kota tersebut ke dalam rangkaian peristiwa yang membentuk sejarah awal Islam.
Hijrah Menjadi Titik Perubahan Madinah
Nabi Muhammad SAW tiba di kawasan Madinah pada tahun 622 M setelah meninggalkan Makkah. Saudipedia mencatat peristiwa tersebut sebagai awal periode hijrah yang kemudian menjadi dasar penanggalan Hijriah.
Sebelum memasuki pusat kota, Nabi Muhammad SAW berada di kawasan Quba. Di tempat inilah berdiri Masjid Quba yang dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun dalam Islam. Saudipedia mencatat pembangunannya berlangsung pada tahun 622 M atau tahun pertama Hijriah. Lokasinya sekarang berada sekitar 3,5 kilometer dari Masjid Nabawi.
Setelah itu, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan ke kawasan yang kemudian menjadi pusat Madinah. Masjid Nabawi dibangun di lokasi tempat unta beliau berhenti. Saudipedia menjelaskan bahwa tanah tersebut dibeli dan kemudian digunakan untuk mendirikan masjid. Bangunan awalnya menggunakan material sederhana seperti batu pada bagian dasar, batang kurma sebagai tiang dan pelepah kurma untuk bagian atap.
Kehadiran Masjid Nabawi kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan Madinah. Kawasan di sekitarnya menjadi tempat ibadah sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat Muslim pada masa Rasulullah SAW.

Gambaran Madinah dalam litografi sekitar tahun 1883. Karya Mehmed Hulusi dari Austrian National Library melalui Wikimedia Commons — Public Domain.
Mengapa Yatsrib Kemudian Dikenal sebagai Madinah
Saudipedia mencatat bahwa kota ini dahulu bernama Yatsrib dan setelah hijrah Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah. Madinah juga memiliki sejumlah nama lain yang ditemukan dalam berbagai sumber sejarah dan riwayat, termasuk Taibah atau Tabah.
Hubungan antara sebutan Yatsrib dan Madinah juga dapat ditemukan dalam Sahih al-Bukhari. Dalam Sahih al-Bukhari nomor 1871, Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW mengenai kota tempat beliau diperintahkan berhijrah. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa orang-orang menyebutnya Yatsrib dan kota itu adalah Madinah.
Hadis tersebut menyebut Yatsrib dan Madinah dalam satu rangkaian keterangan, memperlihatkan bahwa Yatsrib merupakan nama yang sudah dikenal masyarakat sedangkan Madinah kemudian semakin lekat dengan kota tempat Rasulullah SAW menetap setelah hijrah.
Seiring perkembangan kota setelah hijrah, nama Madinah semakin sering digunakan. Dalam sumber sejarah dan hadis yang digunakan untuk artikel ini tidak terdapat catatan tentang satu peristiwa khusus yang menandai pergantian nama Yatsrib menjadi Madinah, sehingga penyebutannya lebih tepat dipahami sebagai penggunaan nama yang semakin meluas setelah Rasulullah SAW dan masyarakat Muslim menetap di kota tersebut.
Yatsrib dan Madinah dalam Al-Qur’an
Penyebutan Yatsrib dapat ditemukan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 13, pada bagian yang memuat perkataan salah satu kelompok ketika Perang Ahzab dengan seruan “wahai penduduk Yatsrib”. Penggunaan nama tersebut menunjukkan bahwa sebutan Yatsrib masih dikenal pada masa setelah hijrah.
Selain Yatsrib, Al-Qur’an juga menggunakan nama Madinah dalam Surah At-Taubah ayat 101 ketika menjelaskan sebagian penduduk kota dan masyarakat di sekitarnya. Penyebutan Madinah kembali muncul dalam Surah At-Taubah ayat 120.
Jika dilihat dari penggunaannya dalam Al-Qur’an, nama Yatsrib dan Madinah sama-sama dikenal pada masa setelah hijrah. Yatsrib muncul dalam konteks Perang Ahzab, sedangkan Madinah digunakan dalam Surah At-Taubah untuk menyebut kota dan penduduknya. Dalam berbagai riwayat berikutnya, nama Madinah kemudian semakin umum digunakan untuk kota Rasulullah SAW.
Madinah Menjadi Pusat Kehidupan Umat Islam
Perubahan penting setelah hijrah terlihat dari posisi Madinah dalam kehidupan umat Islam. Nabi Muhammad SAW tinggal di kota tersebut selama sekitar sepuluh tahun terakhir kehidupan beliau. Masjid Nabawi dibangun di sana dan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam berlangsung di Madinah serta kawasan sekitarnya.
Kota ini juga menjadi tempat berkumpulnya kaum Muhajirin yang berpindah dari Makkah dan kaum Ansar dari masyarakat setempat. Dari Madinah, kehidupan masyarakat Muslim berkembang dengan masjid sebagai salah satu pusat utamanya.
Hijrah juga meninggalkan sejumlah tempat yang sampai sekarang masih dapat dikenali. Masjid Quba berhubungan dengan tahap awal kedatangan Nabi Muhammad SAW. Masjid Nabawi berada di pusat kota yang kemudian berkembang. Gunung Uhud menjadi saksi salah satu peristiwa besar dalam sejarah Madinah. Banyak lokasi tersebut kini berada di tengah kota yang bentuk dan ukurannya sudah jauh berbeda dibandingkan masa Rasulullah SAW.
Setelah hijrah, Yatsrib yang sebelumnya dihuni berbagai kelompok masyarakat berkembang menjadi pusat kehidupan umat Islam pada masa Rasulullah SAW. Perubahan tersebut terlihat pada penyebutan kota sekaligus perannya yang semakin penting dalam sejarah Islam.
Masjid Nabawi dan Perubahan Wajah Kota
Masjid Nabawi menjadi salah satu penanda paling jelas perubahan Madinah dari masa ke masa. Bangunan pertama yang didirikan pada masa Rasulullah SAW jauh lebih sederhana dibandingkan kompleks yang terlihat sekarang. Berbagai perluasan kemudian dilakukan seiring bertambahnya jumlah masyarakat dan jamaah yang datang ke kota tersebut.
Di bagian lama masjid masih terdapat lokasi yang berkaitan langsung dengan masa Nabi Muhammad SAW. Salah satunya Raudhah yang berada di antara rumah Rasulullah SAW dan mimbar beliau. Area historis seperti Raudhah membantu menunjukkan bahwa sebagian jejak awal Masjid Nabawi tetap dapat dikenali meskipun bangunan di sekelilingnya telah mengalami perluasan berkali-kali.
Seiring berkembangnya Masjid Nabawi, kawasan di sekitarnya ikut berubah dengan bertambahnya jalan, pelataran, kawasan pemukiman dan berbagai fasilitas untuk jamaah. Jika foto lama kota dibandingkan dengan kondisi Madinah sekarang, perubahan fisiknya terlihat sangat besar, meskipun sejumlah nama tempat dan lokasi sejarah tetap menghubungkan kota modern dengan perjalanan panjang yang dimulai sejak masa hijrah.

Masjid Nabawi dalam dokumentasi lama sekitar tahun 1880. Foto penulis tidak diketahui melalui Wikimedia Commons — Public Domain.
Madinah dalam Kehidupan Para Muhajirin
Bagi orang-orang yang meninggalkan Makkah, hijrah membawa mereka ke lingkungan yang berbeda dan menuntut penyesuaian dengan keadaan Madinah.
Sahih al-Bukhari nomor 1889 meriwayatkan bahwa Abu Bakar RA dan Bilal RA pernah mengalami demam setelah tiba di Madinah. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW kemudian berdoa agar Madinah dicintai sebagaimana Makkah atau bahkan lebih dari itu serta memohon keberkahan bagi kota tersebut.
Riwayat ini menggambarkan pengalaman para Muhajirin ketika meninggalkan Makkah dan memulai kehidupan di lingkungan baru. Madinah kemudian menjadi tempat mereka menetap dan membangun kehidupan bersama masyarakat yang menerima kedatangan mereka.
Dalam perkembangan berikutnya, nama Madinah menjadi sangat dekat dengan sejarah Rasulullah SAW, para sahabat dan berbagai peristiwa pada masa awal Islam.
Jejak Perjalanan Yatsrib Menjadi Madinah yang Masih Dapat Dikenali
Madinah sekarang telah berkembang menjadi kota modern, tetapi jejak sejarah yang berkaitan dengan periode hijrah masih dapat ditemukan di berbagai lokasi.
Masjid Quba berkaitan dengan tahap awal kedatangan Nabi Muhammad SAW, sedangkan Masjid Nabawi menjadi pusat perkembangan masyarakat Muslim setelah hijrah dan Jabal Uhud berkaitan dengan peristiwa Uhud. Di samping itu, Masjid Qiblatain, kawasan Khandaq dan berbagai masjid bersejarah menyimpan bagian lain dari perjalanan kota.
Masjid Quba, Masjid Nabawi, Jabal Uhud dan tempat bersejarah lainnya memiliki kaitan dengan peristiwa yang terjadi pada masa awal Madinah. Lokasi-lokasi tersebut masih menjadi bagian dari kota modern dan menyimpan jejak perjalanan hijrah serta perkembangan masyarakat Muslim.
Informasi sejarah membantu jamaah mengenali hubungan antara lokasi yang dikunjungi dengan peristiwa yang pernah terjadi di sana. Masjid Nabawi, Quba dan Uhud menjadi bagian dari perjalanan sebuah kota yang dahulu dikenal sebagai Yatsrib lalu berkembang menjadi pusat kehidupan umat Islam.
Memahami Sejarah Madinah Sebelum Berangkat Umroh
Hijrah Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 M menjadi salah satu peristiwa yang paling menentukan dalam sejarah Madinah. Setelah hijrah, kota ini menjadi tempat berkembangnya masyarakat Muslim, berdirinya Masjid Nabawi dan tempat Rasulullah SAW menjalani sekitar sepuluh tahun terakhir kehidupan beliau.
Bagi calon jamaah yang sedang mencari travel umroh Bandung, memahami sejarah Madinah sebelum berangkat dapat membantu melihat tempat yang dikunjungi dengan konteks yang lebih jelas. Masjid Nabawi, Quba, Uhud dan lokasi bersejarah lainnya tidak serta merta berdiri sendiri, tetapi semuanya itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Madinah sejak masa hijrah.
Informasi sejarah seperti ini dapat menjadi bekal sebelum perjalanan agar jamaah lebih mudah mengenali hubungan antara kota yang dikunjungi dan berbagai peristiwa yang membentuk kedudukan Madinah dalam sejarah Islam.
