Suasana Raudhah di Masjid Nabawi Madinah
Raudhah berada di bagian lama Masjid Nabawi, Madinah. Foto: Bilal Dweik / Wikimedia Commons — CC BY-SA 3.0.

Mengenal Raudhah di Masjid Nabawi

Raudhah di Masjid Nabawi merupakan area yang berada di antara rumah Nabi Muhammad SAW dan mimbar beliau. Saudi Press Agency mencatat luasnya sekitar 330 meter persegi, dengan panjang kurang lebih 22 meter dan lebar 15 meter. Ukurannya relatif kecil jika dibandingkan dengan kompleks Masjid Nabawi saat ini, sementara jumlah jamaah yang ingin masuk sangat besar. Kondisi itulah yang membuat kunjungan ke Raudhah sekarang diatur melalui sistem jadwal dan izin masuk.

Raudhah memiliki hubungan erat dengan sejarah awal Masjid Nabawi. Area ini berada di antara rumah Nabi Muhammad SAW dan mimbar beliau, serta dikelilingi sejumlah tiang yang berkaitan dengan berbagai peristiwa pada masa Nabi. Masjid Nabawi kemudian mengalami banyak perluasan selama berabad-abad, tetapi posisi Raudhah tetap merujuk pada area historis tersebut. Mengenali latar dan letaknya akan membantu jamaah memahami kawasan Raudhah saat berada di Masjid Nabawi.

Letak Raudhah di Masjid Nabawi

Raudhah berada di bagian lama Masjid Nabawi, tepatnya di antara rumah Nabi Muhammad SAW dan mimbar beliau. Area ini berada di sisi selatan masjid yang sekarang dikelilingi bangunan hasil perluasan dari berbagai masa. Menurut Saudi Press Agency, batas area yang dikenal sebagai Raudhah memiliki ukuran sekitar 22 meter kali 15 meter. Letaknya tetap mengacu pada ruang historis antara rumah Nabi dan mimbar meskipun bangunan Masjid Nabawi di sekelilingnya sudah berubah berkali-kali.

Bagi jamaah yang baru pertama kali datang, area ini bisa terasa sulit dibayangkan karena Masjid Nabawi sekarang sangat luas. Di sekitar Raudhah terdapat Hujrah Nabawiyah, mimbar, mihrab, dan beberapa tiang bersejarah. Jalur pengunjung juga sudah diatur sehingga jamaah tidak bebas masuk dari semua arah. Petugas mengarahkan arus berdasarkan pintu, kelompok, jadwal dan kapasitas yang tersedia.

Gambar menunjukkan posisi sejumlah tiang bersejarah di bagian lama Masjid Nabawi yang berada di sekitar Raudhah. Ilustrasi: Bilal Dweik / Wikimedia Commons — CC BY-SA 3.0.

Mengapa Disebut Raudhah

Penyebutan Raudhah bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam Sahih al-Bukhari nomor 1196, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda bahwa area antara rumah beliau dan mimbar beliau merupakan “taman dari taman-taman surga”. Riwayat dengan makna serupa juga terdapat dalam Sahih Muslim nomor 1391. Dari hadis inilah istilah Raudhah atau Al-Rawdah Al-Sharifah dikenal luas oleh umat Islam.

Hadis tersebut menjelaskan kedudukan khusus lokasi antara rumah Nabi dan mimbar, sehingga jamaah dari berbagai negara berusaha mendapat kesempatan salat di dalamnya. Namun, luas ruang yang terbatas membuat pengelola Masjid Nabawi harus mengatur jumlah pengunjung. Sistem izin yang digunakan sekarang lahir dari kebutuhan untuk mempertemukan tingginya minat jamaah dengan kapasitas area yang tidak berubah sebesar kompleks masjid di sekelilingnya.

Sejarah Masjid Nabawi dan Posisi Raudhah

Masjid Nabawi dibangun setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah pada 1 Hijriah. Bangunan awalnya jauh lebih sederhana dibanding kondisi sekarang, menggunakan material yang tersedia pada masa itu. Saudipedia mencatat bahwa kemudian masjid diperluas oleh Nabi Muhammad SAW setelah kembali dari Khaibar pada 7 Hijriah. Luasnya bertambah sekitar 1.425 meter persegi hingga mencapai kurang lebih 2.475 meter persegi.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kebutuhan ruang terus meningkat seiring bertambahnya penduduk dan umat Islam yang datang ke Madinah. Khalifah Umar bin Khattab memperluas masjid pada 17 Hijriah, kemudian Khalifah Utsman bin Affan kembali menambah luasnya pada 29 – 30 Hijriah. Pada masa Dinasti Umayyah, Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik melakukan perluasan besar pada 88 – 91 Hijriah. Pembangunan berikutnya berlangsung pada masa Abbasiyah, Mamluk dan Utsmaniyah.

Perluasan tersebut mengubah ukuran dan bentuk Masjid Nabawi, tetapi lokasi Raudhah tetap dikenali berdasarkan posisi rumah Nabi dan mimbar beliau. Inilah sebabnya Raudhah yang sekarang terlihat berada di tengah struktur masjid yang besar sebenarnya merupakan bagian dari area masjid lama. Perubahan bangunan terjadi di sekeliling dan pada struktur masjid, sedangkan penentuan Raudhah tetap merujuk pada ruang historis yang disebut dalam hadis.

Bagian barat Hujrah Nabawiyah dalam dokumentasi tahun 1935, sebelum perluasan besar Masjid Nabawi pada era Saudi. Foto: Hilal Magazine / Wikimedia Commons — Public Domain.

Perluasan Masjid Nabawi dari Masa ke Masa

Perubahan besar kembali terjadi pada era Saudi. Saudi Press Agency mencatat perluasan Saudi pertama berlangsung pada 1952 – 1955 untuk menjawab kenaikan jumlah jamaah yang datang ke Madinah. Sekitar 16.326 meter persegi ditambahkan dan kapasitas masjid meningkat hingga mendekati 28.000 jamaah. Pembangunan tersebut menjadi awal perubahan besar kawasan Masjid Nabawi pada masa modern.

Perluasan kedua dimulai pada 1985 dan selesai pada 1994. Pembangunan mencakup bangunan utama, atap dan pelataran sehingga luas keseluruhan mencapai sekitar 300.000 meter persegi dengan kapasitas hampir 698.000 jamaah. Pada 2012, perluasan Saudi ketiga diluncurkan sebagai proyek dengan skala lebih besar lagi. SPA menyebut pengembangan tersebut meningkatkan kapasitas Masjid Nabawi hingga sekitar 1,8 juta jamaah.

Penyebab utama rangkaian pembangunan itu adalah pertumbuhan jumlah jamaah dan kebutuhan pengelolaan pergerakan manusia dalam skala besar. Akibatnya, pengunjung sekarang melihat Masjid Nabawi sebagai kompleks luas dengan banyak pintu, pelataran, payung otomatis, eskalator, lift dan jalur khusus. Raudhah tetap berada pada bagian historisnya, sehingga perbedaan antara luas kompleks modern dan ukuran Raudhah menjadi semakin terasa.

Tiang-Tiang Bersejarah di Area Raudhah

Bagian lama Masjid Nabawi memiliki sejumlah tiang yang dikenal karena berkaitan dengan peristiwa pada masa Nabi Muhammad SAW. Saudi Press Agency pada Maret 2026 mencatat ada delapan tiang bersejarah di kawasan Raudhah. Struktur awalnya menggunakan batang kurma dan kemudian diganti dengan bahan yang lebih kuat, tetapi lokasi serta nama beberapa tiang tetap dipertahankan sebagai penanda sejarah.

Otoritas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjelaskan beberapa di antaranya, termasuk Ustuwanah Al-Mukhallaqah atau Tiang Harum yang berada di depan mihrab Nabi, Ustuwanah Aisyah yang juga dikenal sebagai Tiang Al-Qur’ah, serta Ustuwanah At-Taubah yang berkaitan dengan kisah Abu Lubabah. Ada pula tiang yang dikaitkan dengan tempat Nabi menerima delegasi dan beberapa kegiatan lain di dalam masjid. Karena cerita setiap tiang berbeda, pembahasannya perlu mengacu pada sumber sejarah yang jelas dan tidak cukup hanya berdasarkan penjelasan lisan yang beredar di kalangan pengunjung.

Keberadaan tiang-tiang ini memberi gambaran bahwa Raudhah berada di dalam ruang yang digunakan untuk salat, menerima tamu, menyampaikan ilmu dan berbagai kegiatan masyarakat Muslim pada masa awal Madinah. Jamaah sekarang melihatnya dalam bentuk arsitektur yang sudah mengalami pembaruan, tetapi nama tiang membantu menjaga hubungan lokasi tersebut dengan catatan sejarah sebelumnya.

Suasana bagian dalam Raudhah di Masjid Nabawi dengan deretan tiang dan area salat. Foto: Uleke / Wikimedia Commons — CC BY-SA 3.0.

Mengenali Area Raudhah Saat Berada di Masjid Nabawi

Jamaah sering mengenali Raudhah dari suasana interior bagian lama Masjid Nabawi, posisi mimbar dan Hujrah Nabawiyah, serta penataan area salat yang berbeda dari bagian perluasan. Namun, penanda visual dapat berubah mengikuti penataan operasional, penggantian karpet atau pengaturan jalur. Karena itu, lokasi Raudhah sebaiknya tidak ditentukan hanya dari satu ciri seperti warna karpet.

Petugas dan jalur kunjungan menjadi petunjuk yang lebih praktis ketika jamaah datang. Sistem sekarang mengarahkan pemegang izin menuju area tunggu, jalur pemeriksaan dan pintu masuk sesuai jadwal. Pengaturan tersebut membuat jamaah tidak perlu mencari sendiri batas Raudhah di tengah kepadatan Masjid Nabawi. Setelah masuk, tetap ikuti arahan petugas karena jalur keluar dapat berbeda dari jalur masuk.

Perubahan Terbaru Sistem Kunjungan Raudhah

Untuk masuk ke Raudhah, jamaah perlu melakukan pemesanan melalui Nusuk. Kementerian Haji dan Umrah menyediakan layanan izin kunjungan untuk laki-laki dan perempuan melalui aplikasi maupun situs Nusuk. Jamaah dapat memilih tanggal dan waktu kunjungan sesuai slot yang masih tersedia tanpa dikenakan biaya. Pengaturan jadwal dan pemeriksaan izin dilakukan karena area Raudhah terbatas, sedangkan jumlah jamaah yang ingin berkunjung sangat besar.

Ada perubahan penting pada layanan Nusuk yang perlu diketahui jamaah. Halaman resmi Nusuk saat ini menjelaskan bahwa pemesanan reguler Raudhah tersedia satu kali dalam setahun untuk setiap pengunjung. Selain jalur reguler, terdapat fitur jalur instan yang dapat menampilkan kesempatan kunjungan tambahan bagi pengguna yang berada dekat kawasan pusat Masjid Nabawi. Slot pada jalur instan dapat diperbarui setiap 20 menit sesuai ketersediaan, sehingga kesempatan masuk bergantung pada kapasitas saat itu dan posisi pengguna.

Panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah juga meminta pemegang izin mengkonfirmasi kehadiran setidaknya dua jam sebelum waktu kunjungan. Nusuk kini menyediakan pengelolaan pendamping ketika melakukan pemesanan dan fitur penerbitan sertifikat setelah kunjungan. Perubahan ini menunjukkan bahwa proses masuk Raudhah semakin bergantung pada sistem digital, sehingga jamaah sebaiknya memastikan akun Nusuk, koneksi internet dan data perjalanan sudah siap sebelum menuju area masjid.

Waktu Kunjungan Laki-Laki dan Perempuan

Halaman resmi Otoritas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi saat ini membagi waktu kunjungan Raudhah antara laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki, periode pertama tercantum mulai pukul 00.30 hingga waktu Subuh, sedangkan periode kedua mulai pukul 12.30 hingga Isya. Untuk perempuan, periode pertama tercantum pukul 05.30 – 11.00 dan periode kedua pukul 21.30 – 00.00.

Waktu kunjungan yang tercantum di Nusuk tetap menjadi acuan utama karena jadwal operasional dapat berubah, terutama pada Ramadan, musim Haji atau saat kawasan Masjid Nabawi sedang padat. Pada musim Haji 1447 misalnya, Saudi Press Agency melaporkan jamaah mendapat waktu sekitar 10–20 menit di Raudhah agar pergantian pengunjung tetap tertib. Durasi tersebut berlaku untuk pengaturan pada periode Haji itu dan dapat berbeda pada waktu lainnya.

Pengelolaan kepadatan juga terus dikembangkan di Masjid Nabawi. Pada 2026, otoritas mengoperasikan informasi kepadatan secara langsung untuk beberapa area masjid dan jalur salam kepada Nabi Muhammad SAW. Indikator warna membantu pengunjung melihat apakah suatu area masih tersedia, mulai padat atau sudah penuh. Walaupun layanan tersebut tidak menggantikan izin Raudhah, penggunaannya menunjukkan arah pengelolaan masjid yang semakin mengandalkan data kondisi lapangan secara langsung.

Sebelum Menuju Raudhah

Sebelum berangkat dari hotel, jamaah sebaiknya membuka kembali izin Nusuk dan memastikan waktu kunjungan, status konfirmasi serta anggota rombongan yang terdaftar sudah sesuai. Datang sesuai arahan pembimbing atau petugas karena terlalu cepat berkumpul di dekat jalur masuk justru dapat menambah kepadatan. Barang yang dibawa juga sebaiknya seperlunya agar pemeriksaan dan pergerakan di jalur antrean lebih mudah.

Jika datang bersama rombongan, tentukan titik bertemu setelah selesai karena setiap orang dapat keluar pada waktu yang sedikit berbeda. Simpan nomor pembimbing, nama hotel dan lokasi pertemuan di ponsel. Untuk jamaah lansia, informasi tersebut sebaiknya juga ditulis pada kartu identitas atau catatan yang mudah ditemukan jika ponsel sulit digunakan.

Petugas mengatur jalur kunjungan agar arus jamaah di sekitar Raudhah tetap tertib. Jalur untuk menuju ke area makam Rasulullah SAW bisa melalui Bab Al-Salam atau Gate 1, sedangkan akses masuk ke Raudhah harus menggunakan jalur dan izin tertentu karena itu, jamaah perlu memperhatikan petunjuk di lokasi dan mengikuti arahan petugas agar tidak salah antrean.

Raudhah di Masjid Nabawi Saat Ini

Raudhah hanya memiliki luas sekitar 330 meter persegi, jauh lebih kecil dibanding keseluruhan kompleks Masjid Nabawi saat ini. Di dalam area inilah tersimpan bagian penting dari sejarah masjid, mulai dari posisi rumah Nabi Muhammad SAW, mimbar beliau, hingga sejumlah tiang bersejarah. Keterbatasan ruang dan tingginya jumlah pengunjung membuat kunjungan ke Raudhah kini diatur melalui izin, jadwal, dan jalur khusus.

Calon jamaah yang sedang mencari travel umroh Bandung dapat menanyakan bagaimana pendamping menjelaskan penggunaan Nusuk, mengatur kunjungan Madinah dan menentukan titik berkumpul setelah jamaah keluar dari area kunjungan. Informasi tersebut penting karena sistem Raudhah dapat berubah mengikuti kebijakan operasional terbaru, sedangkan jamaah tetap perlu mengikuti izin dan arahan resmi yang berlaku saat berada di Masjid Nabawi.

Baca artikel lainnya

Sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW, Madinah dikenal dengan nama Yatsrib dan telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat. Saudipedia mencatat bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah pada tahun 622 M, kota tersebut kemudian dikenal sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah. Hijrah membawa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Yatsrib sekaligus membuka babak baru bagi kota tersebut. […]

...

Air Zamzam yang diminum jamaah di Masjidil Haram berasal dari sumur di dekat Ka’bah. Sebelum tersedia melalui keran dan wadah air seperti sekarang, Zamzam telah menjadi sumber air bagi orang-orang yang tinggal dan datang ke Makkah. Kisah awalnya berkaitan dengan Hajar dan Ismail yang masih bayi, ketika mereka ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah yang belum […]

...

Masjid Qiblatain berada di kawasan Bani Salamah di Madinah. Masjid ini dikenal dalam sejarah Islam karena kawasan tersebut menjadi tempat terjadinya perubahan kiblat salat dari Baitul Maqdis di Yerusalem menuju Ka’bah di Makkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah setelah Rasulullah SAW tinggal di Madinah selama sekitar enam belas atau tujuh belas bulan. Perintah […]

...